SAMPIT – Siswanto yang merupakan tokoh Tionghoa di Vihara Avalokitesvara, Sampit pada saat melaksanakan ibadah perayaan tahun baru Imlek, berdoa agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir di tahun Macan Air ini.
Siswanto juga mendoakan, semua masyarakat khususnya di Kotawaringin Timur (Kotim) kuat menjalani masa-masa pandemi ini guna menuju hari yang lebih baik. “Apalagi tahun ini merupakan tahun macan air, tahun Macan dikenal sebagai tahun penuh ujian namun semoga kita semua dapat melewatinya,” kata Siswanto, Selasa 1 Februari 2022.
Pada umumnya ujarnya, Macan dikenal sebagai hewan berkepala panas dan penuh hawa nafsu. Macan merupakan simbol energi, kekuatan, perlindungan, altruisme, kepemimpinan, wibawa, kehormatan, dan gagasan revolusioner. Hewan ini juga mewakili simbol-simbol lain, seperti kepekaan, egois, over estimate, dan kerentanan. “Macan diasosiasikan dengan elemen kayu, tetapi pada 2022 membawa air, air membuat tanaman (kayu) tumbuh dan berkembang,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Kayu (macan) akan menjadi kuat dan giat sehingga bisa dimanfaatkan untuk menyuntikkan kehidupan, dan menjadi vitalitas baru dalam usaha-usaha yang tenggelam pada tahun sebelumnya (Kerbau Metal, 2021), serta proyek-proyek yang terbengkalai. “Semoga di tahun macan ini kita semua diberikan kebaikan, kesehatan, dan diberkati,” ujarnya.
Dikatakannya, dalam perayaan imlek tahun 2022 ini khususnya bagi warga keturunan tionghoa di lingkungan Vihara Avalokitesvara hanya memperingatinya secara sederhana. Selain memang tak merayakan imlek secara khusus, alasannya juga karena masih dalam situasi pandemi. “Secara keagamaan, kami umat Buddhis tidak merayakan, hanya mengisi dengan ibadah biasa. Kecuali saudara-saudara kami yang masih beragama Khonghucu mereka merayakannya secara khusus,” jelasnya.
Kendati demikian secara umum warga keturunan Tionghoa tetap melaksanakan tradisi dan budaya dalam menyambut tahun baru dengan shio macan air ini.
(dia/matakalteng.com)





















Discussion about this post