PALANGKA RAY– Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami tren peningkatan pada bulan Mei 2023 sampai dengan 21 September 2023, Hotspot (HS) lebih tinggi terjadi pada bulan Mei dan bulan Agustus 2023.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib yang menyebutkan peningkatan tren ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan pada beberapa wilayah di Kalteng.
Hal ini dipaparkannya saat menerima kunjungan Monitoring dan Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalteng oleh Tenaga Ahli Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Hamka Mappaita.
“Sejak penetapan status siaga Karhutla pada tanggal 29 Mei hingga 10 November 2023, Pemerintah Provinsi melalui BPBPK Kalteng telah membentuk Posko Lapangan di Kabupaten/Kota sebanyak 35 Posko Lapangan, dengan dukungan Dinas Kehutanan Kalteng dari DBH DR berupa honorarium, nasi kotak, snack dan kopi,” tambahnya, Sabtu 23 September 2023.
Lebih lanjut disampaikan Toyib, Tim Satgas Darat digerakkan lebih cepat ke lokasi Karhutla sehingga sebelum api membesar, apinya sudah dipadamkan.
“Berdasarkan pengalaman kami selama ini menangani Karhutla, lebih pagi akan lebih bagus sebab jika sudah siang kondisi api sudah membesar. Bergerak lebih cepat, api lebih mudah dipadamkan. Kami juga aktif melakukan diskusi dan berkoordinasi termasuk kendala-kendala yang dihadapi di lapangan oleh tim satgas Karhutla di Kab/Kota yang dilaksanakan melalui rapat perencanaan dan evaluasi yang setiap sore dilaksanakan baik melalui WhatsApp Group maupun juga secara virtual zoom meeting,” bebernya.
Sementara itu, Tenaga Ahli Kepala BNPB Hamka Mappaita menyatakan bahwa BNPB pusat mendukung penanganan Karhutla di Kalteng sebanyak lima unit helicopter, yakni empat unit heli water bombing dan satu unit heli patroli.
“Unit helicopter ini merupakan dukungan dari pemerintah pusat, dalam hal ini BNPB, untuk mendukung penanganan Karhutla di Kalteng yang ditujukan untuk melakukan patroli melalui udara. Lalu, apabila menemukan firespot di Kab/Kota dapat memprioritaskan dan menyesuaikan kondisi lapangan, serta dapat diprioritaskan water bombing di titik-titik firespot yang lebih diutamakan dan yang menjadi wilayah prioritas,” ungkap Hamka.
Hamka menyebutkan, Satgas darat merupakan komponen utama. Tanpa satgas darat akan sulit tim untuk memadamkan api. Ia juga menambahkan operasi udara adalah komponen pendukung yang menjadi upaya terakhir dilakukan sebelum api membesar.
(vi/matakalteng.com)





















Discussion about this post