KUALA PEMBUANG – Sejumlah masyarakat yang bergerak pada sektor usaha ebi atau udang kering di Kabupaten Seruyan mengalami kendala pada harga bahan baku yang digunakan untuk membuat produk tersebut.
Marhanah yang merupakan seorang pengusaha ebi di dalam Kota Kuala Pembuang, Kecamatan Seruyan Hilir mengungkapkan bahwa yang menyebabkan produksi ebi tidak maksimal saat ini adalah harga udang segar yang masih relatif mahal.
“Untuk produksi saat ini terkendala karena harga bahan baku yang masih relatif mahal, sehingga produksi tidak maksimal,” katanya, Senin 25 Oktober 2021.
Ia menjelaskan, padahal saat ini stok atau ketersediaan udang dari nelayan sudah lumayan banyak, akan tetapi harga masih relatif mahal. Biasanya, harga udang segar hanya berkisar Rp6.000 perkilogramnya sedangkan untuk saat ini bisa mencapai Rp10.000-Rp12.000 perkilo.
Harga bahan baku yang relatif mahal ini berpengaruh pada jumlah produksi ebi yang bisa dilakukan olehnya. “Kalau biasanya kita bisa produksi udang segar sampai 100 kilogram perhari, sekarang paling cuman 10 kiloan. Karena harus mempertimbangkan biaya produksi yang lainnya,” ujarnya.
Disamping itu, ekspor udang segar keluar daerah menjadi salah satu alasan stok bahan baku yang harusnya menjadi milik pengusaha ebi habis terjual ke pengepul luar dengan harga beli yang lebih tinggi.
Maka dari itu, dirinya berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan bisa mencarikan solusi terkait dengan pemasalahan yang saat ini mereka hadapi.
“Banyak nelayan itu memilih ekspor udang ke luar daerah seperti Banjarmasin, karena mereka berani membeli dengan harga lebih tinggi dari harga beli kami, jadi kami cuma menunggu udang kelas C yang tidak lolos standar untuk ekspor tersebut,” ungkapnya.
(ald/matakalteng.com)






















Discussion about this post