PALANGKA RAYA – Kenaikan harga plastik di Kalimantan Tengah menjadi perhatian pemerintah daerah. Meski tidak sepenuhnya disebabkan kelangkaan, terbatasnya pasokan dari luar daerah memicu lonjakan harga hingga 50–60 persen di pasaran.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kalteng, Norhani, mengatakan pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah toko plastik di Kota Palangka Raya untuk memastikan kondisi ketersediaan barang.
“Hasil sidak menunjukkan memang ada beberapa jenis plastik yang stoknya habis dan belum ada pengiriman, seperti plastik putih merek bawang ukuran 15 dan 24. Namun secara umum, plastik masih tersedia,” ujarnya saat diwawancarai awak media, Senin 20 April 2026.
Ia menjelaskan, kenaikan harga bukan semata karena kelangkaan total, melainkan distribusi yang terbatas ke wilayah Kalimantan Tengah. Sebagian besar pasokan plastik masih bergantung dari luar daerah, terutama dari Surabaya dan Banjarmasin.
“Pasokan ke Kalteng memang terbatas, sehingga harga naik cukup signifikan. Ini juga dipengaruhi bahan baku plastik yang langka serta tingginya biaya distribusi,” jelasnya. Norhani mengakui kenaikan harga pada beberapa jenis plastik, khususnya plastik bening dan kresek, mencapai 50 hingga 60 persen.
Kondisi ini terjadi karena sejumlah toko hanya mengandalkan sisa stok sambil menunggu pengiriman berikutnya. Sebagai langkah pengendalian, pemerintah provinsi terus berkoordinasi dengan distributor dan pemasok agar harga dapat ditekan.
“Kami terus berkomunikasi dengan para supplier dan distributor untuk mencari solusi agar harga bisa lebih terkendali, meskipun mereka juga menghadapi kendala bahan baku dan ongkos kirim,” katanya. Selain itu, pemerintah juga mendorong perubahan perilaku masyarakat sebagai bagian dari solusi jangka pendek.
Masyarakat diimbau mengurangi ketergantungan pada plastik dengan membawa tas atau wadah sendiri saat berbelanja. “Kami mengedukasi masyarakat agar tidak selalu bergantung pada plastik. Bisa menggunakan tas sendiri atau wadah yang lebih ramah lingkungan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan, hingga saat ini belum ada industri produksi plastik di Kalimantan Tengah, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah masih cukup tinggi. Pemprov Kalteng memastikan akan terus memantau perkembangan harga di lapangan serta memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan masyarakat.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post