SAMPIT – Hari ini tanggal 28 oktober 2022 mengingatkan kembali sebuah peristiwa yang terjadi 94 tahun silam, dimana terjadi sebuah sumpah bersama yang dilakukan seluruh pemuda anak negeri ini yang kemudian sekarang dikenal dengan sumpah pemuda.
“Saat dicetuskan, Sumpah Pemuda didasari keinginan memiliki satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air. Semangat baru ini dikobarkan para pemuda di tengah masa penjajahan,” kata Kepala Sub Bagian Perbantuan SMA dan SMK, Dinas Pendidikan (Disdik) Kotawaringin Timur (Kotim) Zulfikar Antoni, Jumat 28 Oktober 2022.
Tujuannya satu, untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 dan Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah “benang merah” sejarah perjuangan untuk mencapai Indonesia yang berdaulat.
“Betapa semangat mereka berjuang demi tegaknya kedaulatan negara ini. Pemikiran, jiwa dan raga mereka rela korbankan. Untuk siapa? Tentu tidak buat mereka. Apakah mereka sekarang menikmati? Tidak, mereka sudah gugur. Jadi, buat siapa lagi buah perjuangan mereka kalau bukan buat kita yang sekarang tinggal menikmati dan menjaga,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa yang mungkin bisa dilakukan dalam memaknai sumpah pemuda ini salah satunya mencari teman sebanyak-banyaknya dan hindari untuk memicu terjadinya permusuhan. Hal itu disampaikan pada saat menghadiri upacara sumpah pemuda di SMKN 1 Sampit.
“Semangat dan jiwa Sumpah Pemuda perlu kita gelorakan kembali dalam jiwa kita semua sebagai kaum muda. Kaum muda adalah harapan seluruh warga, sama dengan harapan di masa lalu, saat Sumpah Pemuda dikumandangkan. Gelora dan semangat kaum muda juga tak luput dituntut di masa sekarang. Mungkin bentuknya yang lain. Bisa berupa semangat belajar, meraih suatu prestasi, aktif di organisasi, ekstrakurikuler, dan lainnya,”ungkapnya.
Kedua tambahnya, para pelajar harus sudah mulai untuk memikirkan diri supaya lebih mandiri dan lebih selektif dalam memilih lingkungan dan teman bergaul.
“Kita sudah melihat sekelompok anak muda yang mengatasnamakan diri sebagai geng motor begitu beringas melakukan kriminal dan kekerasan atau geng lainnya yang berkali-kali melakukan tawuran antar pelajar dan antar sekolah atau antar keompok lainnya. Ini tentu kenyataan yang sangat menyedihkan. Kita begitu sedih melihat mental mereka yang begitu mengkhawatirkan. Sangat bertolak belakang dengan semangat sumpah pemuda,” ucapnya.
Karenanya, Antoni mengajak semua untuk menahan diri dan jaga hati untuk tidak terjebak kepada hal-hal negatif seperti itu. “Mungkin sangat tepat kata-kata bijak yang pernah disampaikan (Seribu kawan masih kurang, musuh satu kebanyakan),” tegasnya.
Antoni juga berpesan kepada para pelajar agar di masa muda ini dimanfaatkan untuk berbuat hal-hal yang positif dan mengembangkan diri untuk menjemput keberhasilan dimasa depan.
“Kita maknai sumpah pemuda ini untuk terus membangun semangat perbaikan, motivasi untuk belajar, semangat untuk berprestasi,” pungkasnya.
(dia/matakalteng.com)






















