SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menetapkan status siaga banjir menyusul meningkatnya curah hujan dan sudah adanya beberapa wilayah yang terdampak genangan. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi lintas sektor yang melibatkan Basarnas, Polres, Kodim, BMKG, BPBD, dan sejumlah instansi lainnya.
“Asisten I Setda Kotim Rihel mengatakan, kami sepakat menetapkan status siaga pada hari ini karena sudah beberapa wilayah mengalami banjir, mulai dari Cempaga Hulu, Telaga Antang, Antang Kalang, Tualan Hulu, Parenggean hingga Mentaya Hulu. Ke depan juga diperkirakan daerah Kota Besi, khususnya Desa Hanjalipan, pasti akan terdampak karena daerahnya rendah dan dilalui dua aliran sungai,” ujarnya, Jumat 12 September 2025.
Rihel menjelaskan, status siaga ini diputuskan sebagai langkah antisipasi agar pemerintah siap menghadapi kondisi terburuk. Jika banjir meluas dan menjadi bencana besar, status dapat ditingkatkan menjadi tanggap darurat sehingga memungkinkan pemerintah mengeluarkan dana dan bantuan lebih luas.
“Kalau masih siaga, pemerintah daerah hanya bisa mengeluarkan dari dana BTT. Sedangkan kalau sudah tanggap darurat, bantuan bisa disalurkan lebih besar. Kita lihat kondisi beberapa hari ke depan, karena berdasarkan keterangan BWS, potensi hujan saat ini masih menengah hingga ekstrem,” jelasnya.
Dia menambahkan, dengan status siaga seluruh instansi teknis sudah siap bergerak. Mulai dari Basarnas yang menangani kemungkinan korban tenggelam, Dinas PU yang mendata jalan atau jembatan terendam, hingga Dinas Sosial yang menyiapkan bantuan bagi warga terdampak.
Rihel juga menegaskan penetapan status siaga banjir tidak mengganggu penanganan karhutla. Kedua status darurat itu bisa berjalan bersamaan sebagaimana pernah terjadi di tahun 2022. “Tidak masalah, dulu juga pernah jalan beriringan. Bahkan ada yang tanggap darurat banjir, satunya tanggap darurat karhutla. Jadi hal ini biasa saja, hanya personel yang harus dibagi, ada yang menangani kebakaran dan ada yang menangani banjir,” pungkasnya.

Sementara itu, hingga Jumat 12 September tercatat 19 desa terdampak banjir, termasuk Desa Lunuk Bagantung, Kecamatan Bukit Santuai, yang aktivitas puskesmas pembantunya ikut terhambat. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh tenaga kesehatan agar tetap siaga di puskesmas, pustu, maupun poskesdes.
“Jika ada warga yang membutuhkan layanan, tenaga kesehatan bisa segera menangani di lokasi masing-masing,” ujarnya, Jumat 12 September 2025. Dia menambahkan, Dinkes juga memastikan ketersediaan obat-obatan dan bahan medis habis pakai sudah dipenuhi di setiap fasilitas kesehatan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kendala distribusi akibat akses transportasi yang terhambat banjir.
“Pak Kadis sudah menginstruksikan agar persediaan obat dan bahan medis dipenuhi lebih dulu, jadi kalau nanti akses terhambat pelayanan kesehatan tetap berjalan,” jelasnya. Menurut Nugroho, banjir biasanya memicu peningkatan kasus penyakit kulit, gatal-gatal, hingga diare akibat tercemarnya air bersih. Selain itu, dampak psikologis juga tak kalah penting diwaspadai.
“Ada juga masalah kejiwaan seperti stres, karena biasanya warga bisa beraktivitas normal, tapi saat banjir semua aktivitas terganggu,” ungkapnya. Dinkes pun mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan dan memanfaatkan layanan kesehatan terdekat bila mengalami gangguan kesehatan.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post