SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melaksanakan distribusi air bersih sebanyak 12.000 liter ke Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Sabtu 2 Agustus 2025.
Langkah ini dilakukan untuk merespon kondisi darurat kekurangan air bersih yang dihadapi warga akibat dampak musim kemarau. Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyampaikan bahwa distribusi air bersih tersebut menyasar sekitar 60 titik, dengan prioritas utama di wilayah RT 1.
“Warga di RT 1 merupakan kelompok yang sangat membutuhkan karena sebagian besar adalah masyarakat kurang mampu yang tidak memiliki akses air bersih permanen,” ujar Multazam, Sabtu 2 Agustus 2025. Dia menjelaskan, Desa Bagendang Permai termasuk wilayah yang sangat rentan mengalami krisis air bersih setiap kali musim kemarau tiba.
Hal ini disebabkan karena desa tersebut berada di ujung jalur utama, jauh dari akses aliran PDAM. Sementara sumber air lain yang tersedia, seperti Sungai Mentaya, tidak selalu bisa digunakan. “Kalau air sungai dalam kondisi pasang, rasanya payau. Kalau surut, kualitasnya juga perlu diolah lagi agar layak konsumsi. Sementara mereka selama ini sangat mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Pelaksanaan distribusi air melibatkan 8 personel BPBD, dengan dukungan dari Perangkat Desa, Babinsa Baamang Hulu, TNI/Polri, serta relawan dari Masyarakat Peduli Api (MPA) Mentaya Hilir Utara. Proses distribusi berjalan lancar hingga tim kembali ke Posko BPBD dengan kondisi lengkap dan selamat.
“Kami bersinergi di lapangan agar proses ini cepat dan tepat sasaran, terutama untuk kelompok masyarakat yang paling terdampak,” kata Multazam. Sebelumnya, permohonan bantuan air bersih diajukan oleh Camat Mentaya Hilir Utara, Muslih, menindaklanjuti surat dari Kepala Desa Bagendang Permai tertanggal 30 Juli 2025.
Dalam surat tersebut, disebutkan bahwa sebanyak 487 rumah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kecamatan untuk segera mengajukan permohonan distribusi air ke BPBD Kotim. Multazam menegaskan, hingga saat ini belum ada permintaan tambahan distribusi air, namun BPBD tetap siaga apabila ada permohonan lanjutan.
“Kami memahami situasi ini tidak akan selesai dalam satu kali pengiriman. Oleh karena itu, untuk jangka menengah dan panjang, distribusi air bersih harus menjadi prioritas agar risiko kesulitan air di musim kemarau bisa diminimalisir,” tambahnya. Dia juga menekankan pentingnya perencanaan solusi permanen di wilayah yang kerap mengalami kesulitan air bersih.
“Langkah jangka pendeknya memang distribusi air bersih. Tapi ke depan harus ada upaya yang lebih strategis, misalnya pembangunan infrastruktur air bersih atau alternatif sumber air lainnya yang bisa diakses warga,” tegas Multazam. BPBD Kotim, kata dia, akan terus memantau perkembangan situasi di Desa Bagendang Permai maupun desa-desa lain yang memiliki potensi risiko serupa.
Dia berharap, kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, perangkat desa, TNI/Polri, hingga relawan, terus terjaga agar penanganan dampak musim kemarau bisa berjalan efektif. “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu dalam proses distribusi ini. Tanpa kerja sama tim di lapangan, upaya penanggulangan seperti ini tidak akan berjalan optimal. Kami siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan kembali,” tutupnya.
(dia/matakalteng)


















Discussion about this post