SAMPIT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menargetkan setiap Desa terdapat tenaga kesehatan dan Puskesmas Pembantu (Pustu) di tahun 2027 nanti.
“Targetkan dari 2025-2027 itu setiap desa di Kotim ada pustu dan di sana juga terdapat perawat, satu bidan dan dua kader,” kata Kepala Dinkes Kotim, Umar Kaderisasi, Selasa, 14 Mei 2024.
Disampaikan, saat ini Kementerian Kesehatan RI mulai mengintegrasikan dan merevitalisasikan pelayanan kesehatan primer. Itu untuk menguatkan pelayanan kesehatan primer dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif.
“Integrasi ini diselenggarakan dengan mendekatkan pelayanan kesehatan melalui jejaring hingga ke tingkat desa ataupun kelurahan, dengan sasaran seluruh siklus hidup sebagai platformnya, serta memperkuat pemantauan wilayah setempat (PWS) melalui pemantauan dengan dashboard situasi kesehatan per desa juga kelurahan,” terangnya.
Lanjutnya, pendekatan tersebut disebut sebagai integrasi pelayanan kesehatan primer, melibatkan Puskesmas, unit pelayanan kesehatan di desa ataupun kelurahan yang disebut juga sebagai Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Posyandu. Selanjutnya juga akan melibatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan primer.
“Sehingga itu nanti akan mendukung transformasi bidang kesehatan, khususnya di integrasi layanan primer. Dari situlah puskesmas kembali ke basicnya. Artinya promosi kesehatan dan pencegahan, sehingga teman-teman nakes di puskesmas, di pustu dan di posyandu selalu melakukan pemeriksaan, skrining kesehatan, sehingga sebelum yang bersangkutan sakit, dia sudah ada antisipasi bahwa yg bersangkutan ada kemungkinan gejala sakit,” terangnya.
Selain itu, integrasi pelayanan kesehatan primer pada pustu dilakukan dengan memberikan pelayanan kesehatan untuk seluruh sasaran siklus hidup dan memperkuat peran pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan di desa maupun kelurahan.
“Jadi promosi kesehatan dan pencegahan penyakitnya kita gencarkan, sehingga kuratifnya yang pengobatannya adalah murni kewenangannya ada di rumah sakit. Dan apabila ada puskesmas yang memang ada rawat inap itu adalah rawat sederhana, kalau akses pelayanan jaraknya jauh antara lokasi dan rumah sakit. Jadi kita benar-benar ingin pencegahan penyakitnya buka ke pengobatannya, tapi pengobatan tetap dilakukan oleh petugas di Puskesmas, ” tutupnya.
(dev/matakalteng)





















Discussion about this post