PALANGKA RAYA – Saat melaksanakan kunjungan ke Kabupaten Gowa, Makassar beberapa waktu lalu, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) H. Nuryakin melakukan ziarah ke makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin.
Sekda H. Nuryakin mengatakan ziarah ke makam pahlawan bukan sekedar menghormati perjuangannya, tapi juga mampu memetik makna perjuangan dari para pejuang. Sehingga dapat, menjadi motivasi generasi muda dalam berbangsa dan bernegara.
“Perjuangan tanpa pamrih, tulus dan ikhlas berkorban harta hingga nyawa, semangat itu seyogyanya kita rawat untuk diimplementasikan dalam dimensi perjuangan saat ini, yaitu membangun,” ucapnya, Senin 1 Mei 2023. Lanjut Nuryakin berkata, di era serba modern saat ini jangan sampai kebanggan kita terhadap pahlawan menjadi tergerus.
“Era teknologi informasi, jangan sampai kita melupakan jejak sejarah pendahulu kita, terutama generasi muda. Sebagian generasi muda lebih hafal nama-nama bintang K-Pop ketimbang pahlawan pendiri bangsa ini,” pesannya.
Dikutip dari Gramedia Blog, berdasarkan daftar raja-raja Gowa yang dimuat dalam buku Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI sampai Abad XVII yang ditulis oleh Ahmad M. Sewang, Sultan Hasanuddin merupakan Raja Gowa ke-16, atau Sultan Gowa ke-3 sejak kerajaan ini mulai memeluk Islam. Hasanuddin lahir di Gowa pada 12 Januari 1631 dengan nama Muhammad Bakir I. Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Atas keberaniannya melawan penjajah Belanda, ia dijuluki De Haantjes van Het Osten yang artinya Ayam Jantan dari Timur.
Sultan Hasanudin dimakamkan di Kompleks Pemakaman yang di Jalan Palantikang, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Usai melakukan ziarah di makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin, Sekda H. Nuryakin melakukan ziarah ke makam Pangeran Diponegoro di Kampung Jawa, Makassar. Tampak dengan atap pelindung yang tinggi makam Diponegoro berdampingan dengan makam istrinya, serta empat anaknya.
Dikutip dari Kompas.com, Pangeran Diponegoro merupakan pahlawan nasional yang pernah memimpin Perang Diponegoro (1825-1830) melawan Belanda. Perang Diponegoro atau Perang Jawa, menjadi salah satu perang tersulit dan terbesar yang pernah dihadapi Belanda selama pendudukannya di Indonesia.
Pangeran Diponegoro diSetibanyamakamkan di Kompleks Kampung Jawa, Kecamatan Wajo, Makassar. di makam, Sekda Kalteng melakukan hal sama yakni berdoa di samping makam kemudian menaburkan bunga ke makam.
(vi/matakalteng.com)





















Discussion about this post