SAMPIT – Sandung milik Gubang merupakan Sandung berusia ratusan tahun di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sandung tersebut terletak di Desa Tanah Putih Kecamatan Telawang. Kini sandung tersebut direnovasi.
“Sandung yang direnovasi ini usianya diperkirakan hampir 400 tahun. Kondisinya sudah miring karena bagian bawah tergerus usia. Meski terbuat dari kayu Ulin berkualitas tetapi sudah terlihat sangat tua dan perlu direnovasi,” kata Salah seorang keturunan generasi kelima dari Alm. Gubang, Hendra, Rabu, 10 Januari 2024.
Sandung atau Sandong adalah tempat menyimpan tulang bagi orang yang sudah meninggal dan sudah diberlakukan upacara Tiwah oleh Suku Dayak yang beragama Kaharingan di Kalimantan.
Disampaikan Hendra, Gubang merupakan tokoh pendiri Desa Tanah Putih dan sosok yg berpikiran maju. Memiliki 5 orang anak yaitu Nama, Uka, Ipih, Siti, dan Asem. Cucu Alm. Gubang berjumlah 28 orang.
Mereka sepakat untuk melakukan renovasi Sandung Gubang karena kondisinya. Disampaikab, renovasi itu talah direncanakan sejak empat tahun lalu namun belum mendapatkan titik terang. Baru dapat dilaksanakan pada Januari 2024 ini.
“Kami gotong royong melakukan renovasi Sandung, karena memerlukan biaya yang cukup banyak untuk renovasi dan juga ritualnya. Karena kita tahu merenovasi Sandung tidak hanya direnov saja tapi juga ada ritualnya,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Bima Ekawardhana menyampaikan renovasi dapat dilakukan namun harus menjaga keaslian sandung sebelumnya.
“Bangunan yang baru dengan peruntukan yang sama dapat dibuat berdekatan. Hal ini agar bangunan Sandung yang dulu dapat dicatat sebagai cagar budaya yang perlu dijaga dan dipelihara bersama,” pesannya.
Sandung merupakan salah satu warisan kebudayaan masyarakat Kalteng termasuk di Kotim. Karena dalam pembuatan Sandung pada masa lalu dan sampai saat ini wajib melakukan pesta adat yaitu Tiwah.
Dalam proses Tiwah tersebutlah seluruh masyarakat adat di suatu desa berkumpul dan membuat Sandung beserta kelengkapan lainnya. Adat istiadat ini yang perlu dijaga sehingga kebudayaan yang ada di Kotim dapat dilihat oleh generasi selanjutnya.
“Kami juga mengucapkan terima kasih atas kerja sama keturunan Alm. Gubang yang secara mandiri melakukan pemeliharaan Sandung tersebut. Karena ini salah satu cara melestarikan kebudayaan kita,” timpalnya.
(dev/matakalteng)

















<8 


Discussion about this post