SAMPIT – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur Muhammad Irfansyah menyampaikan, proyek penguatan profil pelajar pancasila atau P5 adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan dilingkungan sekitarnya.
“P5 menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis proyek, yang berbeda dengan pembelajaran berbasis proyek dalam program intrakurikuler didalam kelas,”ujarnya, Selasa 18 Juni 2024.
la juga mengatakan Pendidikan adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa. P5 adalah upaya strategis dalam mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual.
“Inisiatif ini sangat penting dalam membentuk siswa yang tidak hanya kompeten dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki integritas, toleransi, dan semangat gotong royong yang tinggi,” kata Irfansyah.
Untuk itu dirinya sangat bersyukur bahwa hampir seluruh sekolah di Kabupaten Kotim khususnya yang dinaungi oleh Disdik setempat, Paparapa sudah melakukan atau menerapkan P5 dalam pembelajaran. Salah satunya SDN 3 Mentawa Baru Hulu yang belum lama ini sudah melakukan gelar karya P5.
“Di mana kita melihat ada banyak sekali prestasi dari para pelajar yang ditampilkan terutama kemampuan minat dan bakat mereka saat tampil di gelar karya,”ucapnya.
Tambahnya, P5 merupakan upaya untuk mendorong tercapainya profil pelajar Pancasila dengan menggunakan paradigma baru melalui pembelajaran berbasis projek. Dengan menjalankan P5, pendidik diharapkan dapat menemani proses pembelajaran peserta didik untuk dapat menumbuhkan kapasitas dan membangun karakter luhur sebagaimana yang dijabarkan dalam profil pelajar Pancasila.
Projek penguatan profil pelajar Pancasila, sebagai salah satu sarana pencapaian profil pelajar Pancasila, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami pengetahuan sebagai proses penguatan karakter, sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.
“Dimensi profil pelajar Pancasila menunjukkan bahwa profil pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia,”tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post