KUALA PEMBUANG – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Seruyan, Albidinnor optimis bahwa ketersediaan pangan di daerah itu aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ditengah wabah Covid-19.
“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan sudah mendatangkan 900 ton lebih dari Badan Urusan Logistik (Bulog) digunakan sebagai Bantuan Sosial (Bansos) kepada masyarakat terdampak Covid-19. Sementara per bulan Mei ini petani kita baru melakukan panen, jadi masih aman sepanjang jalur distribusi tidak terhambat,” kata Albidinnor, Jumat 5 Juni 2020.
Albidinnor mengungkapkan bahwa sedikitnya 2.871 petani mendapat bantuan uang tunai Rp 600 ribu per orang, yang berasal dari bantuan Pemprov Kalteng. Jumlah petani penerima bantuan terdampak Covid-19 yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) Provinsi Kalteng. Angka ini tentu masih belum bisa mengakomodasi petani di Seruyan, pasalnya tidak semua petani memiliki kelompok tani dan terdaftar.
“Kita harapkan para petani aktif membuat dan mendaftarkan kelompok taninya kepada petugas yang sudah tersebar di kecamatan hingga kabupaten. Kita juga berharap Bansos dari Pemrov Kalteng dapat membantu para petani, terkhusus di Kecamatan Seruyan Hilir dan Seruyan Hilir Timur yang saat ini kesulitan memasarkan hasil pertaniannya, karena pembeli utama hasil pertanian mereka berasal dari Banjarmasin,” ucapnya.
Berdasarkan data yang kami himpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng, Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan dari lima subsektor pertanian selama Mei 2020 sebesar 100,47 persen, lebih rendah 1,25 poin dibandingkan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) yang mencapai 101,72 persen. Selisih antara NTP dan NTUP, mencerminkan tingkat reduksi terhadap nilai tukar, sebagai dampak dari tingginya tingkat harga kebutuhan konsumsi rumah tangga petani produsen.
Dibandingkan April 2020, terjadi penurunan NTP (1,91 poin) akibat merosotnya indeks harga yang diterima petani (1,77 poin) dan meningkatnya indeks harga yang dibayar petani (0,27 poin). Menurunnya NTP secara keseluruhan, juga dipengaruhi oleh merosotnya nilai tukar pada subsektor tanaman perkebunan rakyat (3,17 poin), hortikultura (0,99 poin), peternakan (0,65 poin), dan tanaman pangan (0,38 poin).
Menurunnya NTP tersebut tentu saja mempengaruhi jalannya produksi petani di Kabupaten Seruyan.
Ditempat terpisah, seorang petani muda yang saat ini sedang menyelesaikan tesisnya tentang persawahan di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Abdul Haris menerangkan bahwa masalah yang dihadapi petani sekarang tidak hanya menurunnya NTP, melainkan kondisi sawah yang kurang diperhatikan oleh dinas terkait. Bagaimana pun, menurutnya, petani tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut sendirian atau kelompok.
“Sudah bertebaran di media massa cetak maupun daring bagaimana Pemkab berupaya menanggulangi dampak Covid-19, terkhusus pada petani di Kabupaten Seruyan. Namun begitu, tidak ada keberlanjutan. Seakan-akan, dengan adanya Bansos berupa uang tunai itu, daya beli dan produksi petani membaik,” terangnya.
(zen/matakalteng.com)






















Discussion about this post