SAMPIT – Rencana pembangunan Jembatan Mentaya yang menghubungkan Kecamatan Seranau dan Kota Sampit akan segera direalisasikan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) telah menyepakati kerja sama untuk merealisasikan proyek strategis ini.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DSDABMBKPRKP) Kotim, Mentana Dhinar Tistama, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Pemprov Kalteng untuk membahas detail pembangunan jembatan.
“Kami lakukan pertemuan membicarakan detail pembangunannya bersama PUPR Kalteng, baik infrastruktur hingga anggaran pembangunan,” ujar Mentana, Kamis 12 September 2024.
Pembangunan jembatan bentang yang menghubungkan Kecamatan Seranau atau Mentaya Seberang dengan Kota Sampit ini sangat diharapkan masyarakat. Pasalnya, aktivitas masyarakat dari Sampit ke Seranau atau sebaliknya tinggi. Sejauh mereka hanya mengandalkan feri penyebrangan.
Oleh sebab itu, pemerintah daerah berupaya agar jembatan tersebut dapat segera di bangun. Namun dijelaskan Mentana, Kotim belum memiliki pengalaman dalam membangun jembatan bentang panjang, sehingga masukan dari Pemprov Kalteng sangat diperlukan untuk menjalankan program ini.
“Kala untuk estimasi anggaran pembangunan kurang lebih Rp1 triliun, namun karena kondisi keuangan daerah belum memungkinkan sehingga rencana tersebut belum terlaksana saat ini,” ungkapnya.
Setelah dilakukan evaluasi, Kepala PUPR Kalteng memberikan petunjuk bahwa ada beberapa langkah yang harus diperbaharui agar relevan dengan kondisi sekarang, termasuk estimasi anggaran yang tentunya mengalami peningkatan.
“Kemungkinan anggaran akan meningkat dari rencana 2013. Secara otomatis 11 tahun dengan perhitungan inflasi yang meningkat. Bisa dua kali lipat dari sebelumnya,” tutupnya.
Dengan kesepakatan ini, pembangunan Jembatan Mentaya yang telah lama dinantikan masyarakat Kotim semakin dekat.
“Jembatan ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut,” harapnya.
(dev/matakalteng)


