SAMPIT – Kemunculan Buaya Sapit yang menyerang warga di Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) cukup memberikan dampak, tidak hanya bagi kegiatan para orang tua, namun juga anak-anak sekitar.
Para orang tua yang biasanya mencuci pakaian, mandi serta memilik MCK di pinggiran sungai terpaksa harus menghindari kegiatan rutin tersebut, karena khwatir akan di serang buaya. Pasalnya serangan buaya ini tidak hanya sekali terjadi namun sudah berulang kali, baik itu Buaya Sapit maupun Buaya Muara.
Bahkan anak-anak desa setempat kehilangan wahana bermain satu-satunya mereka, yaitu sungai yang sudah seperti kolam renang sehari-hari bagi mereka.
Salah seorang anak Arfi yang masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar (SD) mengatakan, ia dan teman-teman hampir setiap hari bermain dipinggiran sungai. Baik itu lomba berenang maupun bermain perahu serta menyelam.
“Setelah ada serangan buaya itu saya dan teman-teman dilarang orang tua untuk bermain di sungai lagi. Katanya berbahaya, khawatir kami digigit buaya,” ujarnya sembari menunjukkan wajah polos dan sedikit kesal karena mengetahui tempat bermain satu-satunya yang menyenangkan sekarang menjadi tempat yang berbahaya.
Arfi mengakui, sebenarnya dia tetap berani bermain di sungai meski sudah mengetahui ada warga yang diserang buaya. Karena menurutnya, ia belum pernah melihat buaya tersebut muncul bahkan saat ia dan teman-teman sering bermain di sungai.
“Kami belum pernah melihat buaya itu, padahal sering main di sungai. Sebenarnya saya berani saja melompat ke sungai, karena saya pandai berenang. Tapi ibu saya melarang,” celotehnya, seolah-olah ia bisa mengalahkan buaya yang menghuni sungai.
Meski demikian, ia tetap patuh terhadap larangan orang tuanya untuk tidak bermain di sungai. Meski kecewa Arfi tetap memilih bermain di rumah bersama teman-temannya dibandingkan harus ke sungai dan melawan larangan orang tua.
Sementara itu anak lainnya Ipan yang juga sangat menyukai bermain di sungai mengaku tidak ad tempat bermain lagi bagi mereka jika dilarang main di sungai.
“Di sini tidak ada tempat bermain seperti di kota-kota itu, kami biasanya main di sungai dan kadang di rumah atau di halaman rumah saja. Yang paling asik memang di sungai,” jelas Ipan yang duduk di bangku kelas 3 SD.
Sudah menjadi ciri khas warga yang bermukim di bantaran sungai bahwa kegiatan sehari-hari dilakukan di sungai, begitupula dengan anak-anak yang pandai berenang membuat mereka sangat menyukai bermain di sungai.
Namun keberadaan Buaya ganas yang menyerang warga hingga ternak milik warga membuat masyarakat harus waspada serta anak-anak harus menahan hasrat ingin berenang dan bermain di sungai.
“Karena dilarang main di sungai kami akhirnya main Handphone milik orang tua saja di rumah, kadang main petak umpet di halaman rumah,” ujar Ipan sambil membulatkan pipinya.
Jarak desa yang cukup jauh dengan pusat kota membuat anak-anak ini tidak bisa merasakan wahana permainan anak-anak yang beragam yang ada di Kota Sampit. Mereka hanya bisa memainkan permainan tradisional di daratan dan juga game di Hp milik orang tua, itupun sangat jarang karena para orang tua juga membatasi anak-anaknya bermain Hp agar terhindar dari dampak negatif penggunaan Hp berlebihan.
Anak-anak di desa ini hanya bisa berharap ada wahana bermain lain yang lebih menarik di desa mereka selain sungai yang sekarang sudah menyeramkan. Misal komedi putar ataupun kereta listrik yang sudah menjadi permainan biasa bagi anak-anak di Kota, namun bagi mereka anak-anak desa permainan ini tentu sangat istimewa kalau mereka bisa mencobanya.
“Kami berharap sungai kami kembali aman, agar kami bisa bermain dengan puas lagi. Kami bisa berenang dan kami suka berenang,” tutup Ipan sambil tersenyum menggambarkan sebuah harapan.
(dia/matakalteng.com)





















Discussion about this post