SAMPIT – Anggota Komisi III DPRD Kotawaringin Timur Marudin menilai, keberadaan tempat tunggu yang nyaman serta fasilitas yang memadai dapat mempengaruhi kenyamanan pasien pada saat menunggu antrian di RSUD Dr Murjani Sampit.
Karena menurutnya pasien yang datang ke rumah sakit sudah tentu bukan dalam kondisi yang baik sehingga jika mendapati pelayanan yang kurang maksimal tentu akan sangat mudah terpicu secara emosional. Maka dari itu diperlukan tempat tunggu yang membuat para pasien bisa menunggu dengan nyaman untuk setidaknya meredam kondisi psikologis pasien.
“Karena perlu kita sadari masalah utama itu adalah komunikasi kepada pasien yang mana kau tim ini merupakan penduduk terbanyak di Kalimantan Tengah yang tentunya akan ada juga banyak persoalan di dalamnya,”ujar Marudin, Kamis 7 November 2024.
Untuk menguraikan masalah tersebut selanjutnya perlu langkah inovatif salah satunya melakukan skrining di tingkat Puskesmas sehingga penumpukan pasien di rumah sakit setidaknya bisa dikurangi dalam jangka pendek.
“Kemudian kedua masalah sosialisasi khususnya berkaitan dengan program dari Kemenkes yang mengharuskan pihak rumah sakit menggunakan rekam medik elektronik, di rumah sakit harus ada pusat penerangan informasi setidaknya di lantai pertama yang dapat mengarahkan pasien ketika datang,”tegasnya.
Sehingga lanjutnya, dari awal kedatangan secara psikologis keadaan pasien dapat diredam karena mereka akan merasa nyaman lantaran merasa dilayani dengan baik. Menurutnya hal-hal kecil seperti ini terkadang yang menjadi penyebab pemicu emosional seseorang sehingga menimbulkan berbagai macam keluhan.
“Karena kmunikasi yang tidak baik, penyampaian tidak baik, intonasi bahasa, pilihan kata dan gesture itu mempengaruhi orang untuk naik tensinya. Apalagi terkait alur pelayanan di Rumah Sakit. Mengingat yang berobat ini tidak hanya masyarakat di perkotaan namun juga dari desa yang biasanya sulit untuk memahami jika tidak diarahkan,”ucapnya.
Bahkan lanjutnya kebanyakan pasien juga bertanya kepada pasien lainnya sehingga memunculkan permasalahan baru terkait sistem pelayanan.
Tambahnya, dirinya juga mengakui kekurangannya tenaga spesialis di rumah sakit yang turut memicu efektivitas pelayanan. Bahkan ia menemukan sendiri ada pasien yang terpaksa harus dirujuk lantaran tidak adanya dokter spesialis bedah saraf di rumah sakit Murjani.
“Maka dari itu perlu adanya perencanaan yang matang untuk penganggaran keperluan dokter spesialis di rumah sakit ini yang tentunya harus dilakukan jauh-jauh hari. Karena keberadaan dokter spesialis ini tidak bisa langsung hadir begitu saja namun perlu kerjasama sejak awal dari calon dokter menempuh pendidikan,”ujarnya.
Marudin juga menyebutkan adanya keluhan masyarakat yang hingga lebih dari 24 jam tidak juga mendapatkan obat yang sudah dirasakan. Dan setelah melakukan diskusi dengan pihak rumah sakit ternyata juga menyatakan kurangnya tenaga untuk peracikan obat sementara pasien yang berkunjung dalam satu hari bisa mencapai 500 pasien.
“Maka dari itu sebagai langkah jangka panjangnya perlu kita siapkan juga alat pendukung yaitu mesin otomatis. Yang mana bisa mempersingkat pengerjaan racikan obat yang biasanya 10 menit ketika dikerjakan secara manual bisa menjadi 1 menit dengan mesin otomatis tersebut,”tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post