SAMPIT – Kegiatan Sharing Season menjadi ruang refleksi dan motivasi bagi peserta didik untuk kembali meneguhkan semangat belajar sebagai bekal menyongsong Indonesia Emas 2045. Kegiatan ini menghadirkan praktisi pendidikan Rendy M Iqbal sebagai pemateri yang mengajak siswa, guru, dan orang tua melihat pendidikan sebagai tanggung jawab bersama.
Rendy M Iqbal menegaskan bahwa motivasi belajar siswa tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga pendidik di sekolah. Menurutnya, pencapaian Indonesia Emas 2045 membutuhkan peran aktif orang tua dalam mendampingi dan memotivasi anak sejak dini.
“Untuk menuju Indonesia Emas 2045 itu tidak hanya diserahkan pada tenaga pendidik saja, tetapi bagaimana peran orang tua dalam memotivasi serta mengenalkan dan memperlihatkan kepada anak-anak peserta didik tentang dunia luar yang lebih luas,” ujarnya, Minggu 25 Januari 2026.
Ia menjelaskan, orang tua dapat memberikan motivasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dengan menunjukkan contoh-contoh tokoh sukses melalui berbagai media yang mudah diakses, seperti video inspiratif di YouTube. Dengan melihat sosok nyata yang berhasil, siswa akan memiliki gambaran masa depan yang ingin dicapai.
“Dengan pemberian contoh pada sosok yang berhasil, siswa bisa termotivasi. Menurut saya, salah satu strategi memotivasi siswa untuk belajar adalah dengan menanamkan pemahaman bahwa melalui belajar kita bisa mencapai masa depan yang lebih cerah, khususnya untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Rendy juga menyoroti pentingnya pengawasan penggunaan gadget pada peserta didik, terutama di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia menilai peran orang tua menjadi sangat krusial dalam membatasi sekaligus mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tidak berdampak negatif.
“Pemakaian gadget bagi peserta didik memang harus dibatasi, terlebih bagi peserta didik di level SMP. Di sini peran orang tua sangat penting, bagaimana pembatasan penggunaan gadget dan juga edukasi dari orang tua dalam penggunaan gadget tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, gadget memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Jika tidak diawasi, gadget dapat memberikan dampak buruk, namun jika dimanfaatkan dengan tepat justru menjadi sarana pembelajaran yang efektif.
“Gadget ini dua sisi, satu bisa memberikan dampak yang jelek, satunya bisa memberikan dampak yang positif. Sehingga bagaimana penggunaan gadget ini harus didampingi dan diawasi oleh orang tua sebaik-baiknya, agar yang diakses adalah hal-hal yang positif,” tambah Rendy.
Ia menekankan bahwa saat ini proses belajar tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Belajar bisa dilakukan kapan saja dan dari mana saja, selama peserta didik diarahkan untuk memanfaatkan teknologi secara bijak. “Sekarang belajar itu bisa dari mana saja dan kapan saja. Penggunaan gadget ini harus menjadi dampak yang positif bagi pengembangan pendidikan di Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur, Herman Yudianto, turut menyoroti pentingnya peran alumni dalam mendukung kemajuan sekolah. Menurutnya, pertemuan alumni menjadi pintu masuk untuk memperkuat ikatan dan membangun komunikasi yang berkelanjutan.
“Pertemuan alumni merupakan salah satu gerbang untuk mempersatukan kembali seluruh alumni agar bisa membuat suatu wadah, sehingga informasi-informasi bisa sampai ke teman-teman alumni,” ungkap Herman. Dia berharap, melalui wadah tersebut, alumni dapat berkontribusi ketika sekolah mengadakan kegiatan atau program tertentu.
Dengan keterlibatan aaili seluruh alumni agarnekankap>Igatua dcara perp>Dejat ng belajaasi, ang menambaranan atau program tertenta220;berkontri dampak yang poska sekolah asi-infortearnekguyubu. ekokomuna perpanang="falak gar bisa membutan.

