SAMPIT – Perayaan Natal Tahun 2025 dimaknai sebagai ajakan pembaruan hidup bagi umat Kristiani, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang semakin menggerus ketahanan keluarga.
Dengan mengusung tema nasional “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, Natal tahun ini menjadi ruang refleksi rohani sekaligus seruan moral agar keluarga kembali menjadi pusat iman, kasih, dan nilai kehidupan yang sehat.
Dalam perayaan Natal di Gereja Eka Kapakat, Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga, Pendeta Nike Anggaraini mengingatkan jemaat agar tidak terjebak dalam praktik-praktik yang merusak masa depan keluarga.
“Ini merupakan salah satu dari pesan Natal tahun 2025 yang hendaknya menjadi refleksi kita semua,” tegasnya dalam khotbah yang disampaikan di hadapan jemaat, Senin 15 Desember 2025.
Ia menilai, tantangan terbesar keluarga saat ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga godaan gaya hidup instan yang difasilitasi oleh kemajuan teknologi. Maraknya pinjaman online, judi online, dan penyalahgunaan narkoba disebut sebagai ancaman nyata yang perlahan menghancurkan sendi kehidupan keluarga, khususnya generasi muda.
Menurut Pendeta Nike, pinjaman online sering kali bermula dari kebutuhan mendesak, namun berkembang menjadi jerat utang berkepanjangan akibat tuntutan gaya hidup dan keinginan mengikuti standar hidup orang lain.
“Kondisi tersebut tidak hanya menguras ekonomi keluarga, tetapi juga memicu tekanan psikologis dan konflik rumah tangga yang sulit dihindari,”ujarnya.
Situasi serupa juga terjadi pada judi online. Ia menyebut judol bersifat adiktif karena terus muncul melalui berbagai platform digital, sehingga membuat banyak orang terperangkap tanpa disadari.
Ketergantungan ini perlahan menggerus keuangan keluarga, merusak kepercayaan antar pasangan, dan menumbuhkan pertengkaran yang berujung pada retaknya hubungan rumah tangga.
Lebih jauh, ia menyoroti dampak lanjutan dari krisis keluarga akibat pinjol dan judol, yakni meningkatnya perselingkuhan. Tekanan ekonomi, ketidakpuasan dalam relasi, dan hilangnya keharmonisan menjadi pintu masuk bagi pengkhianatan dalam pernikahan, yang bertentangan dengan nilai iman dan kasih yang diajarkan dalam kekristenan.
Ibadah Natal yang berlangsung khidmat itu diisi dengan pesan-pesan rohani yang menekankan pentingnya penguasaan diri, tanggung jawab moral, serta kesetiaan dalam keluarga. Natal, menurutnya, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, melainkan panggilan untuk memperbaiki hidup dan memulihkan relasi dengan Tuhan serta sesama.
“Pesan Natal 2025 ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dan masyarakat dalam pencegahan narkoba, pemberantasan judi online, serta peningkatan literasi keuangan,”ucapnya.
Gereja, kata dia, memiliki peran strategis untuk membangun kesadaran moral dan spiritual agar umat tidak mudah tergoda oleh jalan pintas yang merugikan diri sendiri dan keluarga.
Melalui momentum Natal, umat Kristiani diajak kembali menata kehidupan dengan iman yang kokoh, kesetiaan dalam keluarga, serta pengelolaan hidup yang bijak. Sinergi antara gereja, keluarga, dan pemerintah diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang lebih sehat, berkarakter, dan bermartabat.
Dengan semangat Natal 2025, Pendeta Nike berharap umat Kristiani mampu menjadi teladan di tengah masyarakat, menjaga keutuhan keluarga, serta menolak segala bentuk perilaku yang merusak masa depan sebagai wujud nyata iman dalam kehidupan sehari-hari.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post