SAMPIT – Jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mengalami peningkatan. Terhitung sejak Januari hingga dasarian kedua Juli 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menangani 16 kasus karhutla, dengan luas lahan terdampak hampir mencapai 15 hektare.
Fakta ini menjadi sinyal bahaya yang mendorong Pemkab menetapkan status siaga karhutla selama 90 hari ke depan, terhitung mulai 1 Agustus hingga 29 Oktober.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyampaikan bahwa penetapan status siaga bencana ini merupakan langkah antisipatif terhadap potensi peningkatan karhutla yang biasanya terjadi di bulan Agustus.
“Jadi hari ini sudah ditetapkan status bencana siaga karhutla. Dalam status siaga ini, tentu ada beberapa poin penting yang harus dilakukan oleh seluruh sektor. Semua harus bersiap, mulai dari pemenuhan layanan hingga penanganan karhutla di lapangan,” ujarnya usai rapat koordinasi, Kamis 31 Juli 2025.
Ia menjelaskan, dalam rapat tersebut juga dibahas sejumlah perintah teknis terkait penanggulangan karhutla. Multazam menilai, langkah ini penting untuk memastikan koordinasi berjalan optimal di tengah potensi meningkatnya hotspot.
“Mudah-mudahan pada bulan Agustus ini tidak terjadi peningkatan, tetapi kalau kita melihat data dari 2015 sampai 2024, rata-rata memang Agustus itu terjadi peningkatan. Namun, kita juga tidak menutup kemungkinan ada penurunan. Yang paling kita khawatirkan sebenarnya adalah perluasan. Kalau kebakaran hanya satu atau dua titik dan bisa cepat diakses, lalu kita lakukan pembatasan, insya Allah bisa kita atasi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hampir seluruh kebakaran yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia, baik disengaja maupun tidak disengaja.
“Hampir 99 persen kebakaran itu terjadi karena manusia. Kadang ada yang membakar sedikit, lalu ditinggal. Saat kembali, ternyata api sudah menyebar luas. Ini yang sering terjadi,” katanya.
Multazam turut menyoroti potensi karhutla yang lebih parah di wilayah gambut. Menurutnya, bila muka air tanah sudah berada di bawah minus 40 seperti sekarang ini, maka risiko kebakaran menjadi sangat tinggi dan proses pemadaman akan jauh lebih sulit.
“Kalau titik muka air tanahnya sudah lebih dari minus 40, itu sudah sangat berisiko bagi wilayah gambut. Kalau di lahan mineral, pemadaman bisa lebih cepat. Tapi kalau di gambut, harus sampai ke dalam, dan itu memerlukan waktu yang jauh lebih panjang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pemantauan pihaknya, frekuensi kejadian karhutla meningkat tajam pada dasarian ketiga Juli.
“Mulai dari tanggal 21 sampai 30 Juli, intensitasnya meningkat, hampir setiap hari atau dua hari sekali ada kejadian. Ini juga didorong oleh kondisi hari tanpa hujan,” ujar Multazam.
Meski pada hari rapat tersebut belum ada laporan kebakaran, pihaknya tetap melakukan pemantauan ketat hingga malam hari.
“Hari ini memang aman, tapi saya bilang aman itu belum sampai jam 12 malam. Kemarin saja kejadian kebakarannya muncul lagi jam 10 malam,” tegasnya.
Ia berharap, penetapan status siaga ini dapat memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor, mempercepat pengambilan tindakan, serta meminimalkan risiko dan dampak negatif karhutla terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post