SAMPIT – Pasca Musyawarah Daerah (Musda) Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang digelar pada 27 April 2025 lalu, mencuat fakta bahwa mayoritas bidan di wilayah Bumi Habaring Hurung masih berpendidikan Diploma III (D3). Hal ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Riduwan Kesuma, seorang pemerhati masalah sosial dan kemasyarakatan di Kotim.
Menurut laporan ketua IBI Kotim dalam forum Musda tersebut, sebanyak 77,2% bidan yang bertugas di Kotim masih berkualifikasi D3. Dengan proporsi yang begitu besar, Riduwan menilai perlu adanya langkah konkret dari Dinas Kesehatan sebagai leading sector dalam bidang pelayanan kesehatan untuk merancang kebijakan yang lebih komprehensif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tenaga bidan.
“Di era yang serba maju ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia kesehatan, baik dari sisi perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware), sudah sangat signifikan. Oleh karena itu, sudah saatnya para bidan didorong untuk terus meningkatkan kompetensi mereka, minimal hingga jenjang Sarjana (S1) agar dapat memberikan pelayanan yang lebih profesional,” ungkap Riduwan. Selasa, 29 April 2025.
Ia menegaskan, peningkatan jenjang pendidikan bagi para bidan tidak hanya penting untuk pengembangan karir pribadi, tetapi juga menjadi kunci utama dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di berbagai lini, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga praktik mandiri bidan.
“Fasilitas dan sarana pendukung pembelajaran saat ini sudah tersedia, baik dari sisi teknologi informasi maupun fasilitas praktik. Tinggal bagaimana kebijakan dari para pemangku kepentingan dalam memberikan akses dan dukungan terhadap pendidikan lanjutan bagi para bidan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Riduwan menyatakan dukungannya secara penuh terhadap inisiatif pemerintah daerah apabila membuka program peningkatan kapasitas SDM bidan melalui kuliah lanjutan hingga ke jenjang S1, dengan pendekatan profesional dan terstruktur. Menurutnya, langkah ini akan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di lapangan.
“Peningkatan pendidikan ini nantinya akan berkontribusi besar dalam menekan angka kematian ibu dan anak, serta penurunan kasus stunting yang masih menjadi masalah serius di Kotim,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Riduwan juga mengimbau Pemerintah Daerah Kotim untuk menyiapkan skema pembiayaan beasiswa khusus bagi bidan yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tak hanya itu, ia juga mendorong agar Pemda membuka program beasiswa kuliah kedokteran dengan sistem ikatan dinas bagi putra-putri daerah Kotim.
“Dengan adanya program ikatan dinas, kita bisa memastikan bahwa para lulusan ini akan kembali dan mengabdi untuk daerah. Ini adalah investasi jangka panjang yang sangat strategis bagi masa depan pelayanan kesehatan di Kotim,” pungkasnya.
(gus/matakalteng)




















Discussion about this post