SAMPIT – Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Seruyan dan Katingan Siswanto menyebut sektor perkebunan mampu mengurangi angka pengangguran di wilayah setemapat. Itu dapat terwujud melalui sinergitas dengan pemerintah daerah.
“Masyarakat kita yang kurang berminat kerja di perkebunan, padahal peluangnya terbuka lebar. Karena kurang, akhirnya perusahaan harus mendatangkan pekerja dari luar daerah,” katanya, Minggu 7 Juli 2024. Hal tersebut ia ungkapkan juga saat menjadi narasumber diskusi di ajang Kotim Job Fair 2024 di Citimall Sampit.
Disampaikan, melihat tingginya angka pengangguran di Kotim membuatnya miris. Karena di sisi lain sektor perkebunan sering kesulitan mendapatkan tenaga kerja, bahkan harus mendatangkan dari luar daerah. “Padahal tidak jarang perusahaan harus dirugikan karena malah mendapat pekerja “fiktif” yakni mereka yang sudah dibiayai transportasi dan diberi uang tinggal, ternyata kemudian pekerja tersebut malah kembali ke daerahnya,” terangnya.
Disebutkan, peluang pekerjaan di perusahaan cukup besar terutama pada posisi pekerja lapangan, seperti bagian pemanenan, perawatan dan lainnya. Namun dia meyakinkan bahwa posisi ini juga mempunyai peluang pengembangan karier. Lanjutnya, pihak perusahaan juga akan menilai kinerja. Jika dinilai baik tidak menutup kemungkinan bisa mendapatakan posisi di jajaran manajemen bahkan ada yang menjadi general manager.
“Dari posisi pemanen ini punya kelebihan karena mereka sudah merasakan dan tahu betul kondisi di lapangan,” imbuhnya. Sementara terkait penghasilan, Siswanto meyakinkan bahwa pendapatan yang diperoleh pekerja lapangan lumayan bagus. Jika dibanding Upah Menengah Kabupaten (UMK) Kotawaringin Timur sebesar Rp3.341.890 per bulan, pekerja perkebunan kelapa sawit justru bisa mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar.
Karena pemanen ini kerjanya dengan sistem borongan. Jadi hasilnya bisa sampai Rp7 juta bahkan Rp10 juta. Ini fakta bahwa di kebun sangat banyak pekerjaan yang menjanjikan,” sebutnya. Oleh karena itu Siswanto yang juga Ketua Apindo Kotim meluruskan stigma masyarakat bahwa pekerja perkebunan seolah berbeda dengan kelompok profesi lainnya sehingga sering ada istilah sebutan “orang kebun” atau “anak kebun”.
Dia menegaskan bahwa di sektor perkebunan sama seperti sektor lainnya terdapat beragam posisi seperti pekerja lapangan, staf, manajemen dan lainnya. “Ini juga karena masih minimnya informasi yang didapat masyarakat kita tentang gambaran dan peluang kerja di perkebunan, menjadi salah satu penyebab masih rendahnya minat masyarakat di daerah ini mengambil kesempatan bekerja di perkebunan. Makanya kami sangat mengapresiasi dengan adanya Job Fair yang digelar Pemkab Kotim, ” ujarnya.
Dirinya menilai kegiatan tersebut mampu memberikan informasi tentang pekerjaan di perkebunan. Dengan masyarakat mengetahui, maka akan membuat minat bekerja di perusahaan semakin besar. Diungkapkan saat ini GPPI memiliki anggota sebanyak 78 perusahaan baik bidang perkebunan kelapa sawit maupun perusahaan karet dan rotan. Dengan jumlah tersebut tentu membutuhkan ribuan pekerjaan.
Sedangkan berdasarkan data pemerintah daerah setempat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kotim pada 2023 sebesar 4,77 persen yakni 10.124 jiwa. Meskipun menurun dari tahun 2022, namun persentase itu masih lebih tinggi dari angka Kalimantan Tengah yakni 4,10 persen. Dengan jumlah itu tentu membutuhkan tenaga kerja banyak. Besarnya kebutuhan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan tersebut, GPPI mampu berkontribusi signifikan dalam membantu pemerintah daerah mengentaskan pengangguran.
Sehingga angka pengangguran 4,77 persen atau 10. 124 jiwa itu kalau mereka mau bergabung dengan kami di perkebunan,” demikian Siswanto. Kepala Disnakertrans Kotawaringin Timur, Johny Tangkere mengatakan, sekitar 95 persen peserta kegiatan ini merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Ada 1.907 lowongan kerja yang dibuka pada Kotim Job Fair 2024 ini.
“Makanya Job Fair ini kita mempertemukan antara pencari kerja dengan pemberi kerja dengan harapan terjadi perikatan kerja sehingga mereka bisa langsung bekerja,” ujar Johny. Ditambahkan Johny, selama ini tidak sedikit warga yang dimanjakan oleh alam dalam mendapatkan hasil sehingga kurang tertarik dengan pekerjaan yang memerlukan tenaga seperti di perkebunan.
Kami berharap ada perubahan pola pikir masyarakat kita tentang pekerjaan di sektor perkebunan, apalagi kini mencari pekerjaan di sektor lain juga semakin terbatas. Sangat disayangkan jika peluang kerja di sektor perkebunan justru ditangkap oleh pencari kerja dari luar daerah,” tutupnya.
(dev/matakalteng)