SAMPIT – Jika tidak ada aral, rencananya pada tahun 2021 mendatang, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akan membangun pondasi Jembatan Mentaya. Pembangunan ini guna memancing kolaborasi, dimana nantinya diharapkan ada dana ‘sharing’ dana APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten dan bantuan luar negeri.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kotim, Minggu 2 Februari 2020. Menurutnya, jika mengacu pada desain awal jembatan dengan panjang 1,2 kilometer maka biaya yang harus digelontorkan untuk pembangunan pondasi sekitar Rp20 miliar.
“Jembatan yang nantinya akan menjadi akses masyarakat Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut menuju pusat Kota Sampit. Jika ini terbangun, maka akan membawa dampak sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi di dua kecamatan yang saat ini terisolasi jalan darat tersebut,” tandas Machmoer.
Machmoer tidak menyebutkan secara rinci lokasi yang dicadangkan untuk pembangunan Jembatan Mentaya, namun dia memastikan sudah ada dua alternatif lokasi yang disiapkan.
Sebab nantinya, pemilihan lokasi tersebut nantinya akan diserahkan kepada pemerintah pusat setelah ada kajian oleh Kementerian PUPR serta lembaga terkait lain seperti Kementerian Perhubungan dan lainnya karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan dari berbagai sisi.
Jembatan yang akan dibangun dengan lebar 14 meter dan bentang 970 meter itu diperkirakan akan menghabiskan dana sedikitnya Rp1,050 triliun. Besarnya dana yang dibutuhkan tidak mungkin ditanggung sendiri oleh pemerintah kabupaten, tetapi diharapkan dibantu pemerintah provinsi dan pusat.
Pembangunan Jembatan Mentaya diharapkan mempercepat kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut. Apalagi saat ini pemerintah daerah sedang membangun jalan dari Kecamatan Cempaga menuju dua kecamatan tersebut, sehingga nantinya diharapkan bisa terkoneksi dengan kawasan pusat Kota Sampit jika jembatan itu terwujud.
(raf/matakalteng.com)




















Discussion about this post