PALANGKA RAYA – Kondisi cuaca di wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan masih didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Situasi ini terjadi karena sebagian besar wilayah provinsi tersebut masih berada dalam periode musim hujan.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Anton, mengatakan curah hujan pada Maret masih tergolong cukup tinggi sehingga potensi hujan masih perlu diwaspadai oleh masyarakat.
“Untuk wilayah Kalimantan Tengah, potensi hujan ringan hingga sedang masih terjadi karena saat ini kita memang masih berada pada periode musim hujan. Bulan Maret juga termasuk periode dengan curah hujan yang relatif tinggi,” ujarnya, Selasa 17 Maret 2026.
Dia menjelaskan, kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga wilayah Kalimantan Tengah memasuki masa peralihan musim atau pancaroba yang umumnya terjadi pada April hingga Mei.Menurut Anton, musim kemarau di provinsi tersebut tidak datang secara bersamaan di seluruh daerah, melainkan berlangsung secara bertahap.
“Untuk wilayah Kapuas, musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada akhir Mei. Sementara secara keseluruhan wilayah Kalimantan Tengah biasanya mulai memasuki musim kemarau sekitar pertengahan Juni,” jelasnya.
Selain itu, kondisi cuaca saat ini juga menjadi perhatian bagi masyarakat yang berencana melakukan perjalanan mudik. Ia menuturkan bahwa BMKG secara rutin memberikan informasi prakiraan cuaca kepada sektor penerbangan guna mendukung keselamatan operasional.
“Informasi cuaca untuk penerbangan, baik saat proses lepas landas maupun pendaratan, secara rutin kami sampaikan kepada pihak terkait,” katanya. Dia menambahkan bahwa informasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan hujan, tetapi juga potensi gangguan cuaca lain yang dapat memengaruhi aktivitas penerbangan.
Anton juga mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem di wilayah Kalimantan Tengah dapat terjadi hampir merata karena kondisi geografis daerah yang relatif datar. “Cuaca ekstrem biasanya dipicu oleh perbedaan suhu yang cukup besar. Kondisi ini bisa memicu terbentuknya awan Cumulonimbus yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai angin kencang,” terangnya.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama saat memasuki masa pancaroba. “Pada periode peralihan musim, potensi cuaca ekstrem biasanya lebih sering muncul. Selama Maret ini masih ada kemungkinan hujan lebat yang datang secara mendadak disertai angin,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post