PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kesehatan terus mengintensifkan upaya eliminasi Tuberkulosis (TBC), penyakit menular mematikan yang kembali mencuat sebagai ancaman global setelah meredanya pandemi COVID-19. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Riza Syahputra, mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2025.
“TBC kembali tercatat sebagai penyebab kematian menular tertinggi di dunia, dengan lebih dari 10 juta kasus dan jutaan kematian setiap tahunnya. Penyakit ini sangat mudah menular melalui udara, terutama di lingkungan padat dan tertutup, namun bisa dicegah dan disembuhkan dengan pengobatan yang tepat,” jelas Riza.
Mengutip Global TB Report 2024, Riza menyebut Indonesia kini menempati posisi kedua terbanyak di dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC, dengan lebih dari satu juta penderita dan 125 ribu kematian per tahun. “Itu artinya, 14 orang meninggal setiap jam akibat TBC. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga berdampak sosial, psikologis, dan ekonomi,” imbuhnya. Presiden RI telah menetapkan penanggulangan TBC sebagai program prioritas nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga mengembangkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) sebagai bentuk keseriusan dalam upaya menghapus TBC dari Indonesia. Riza menjelaskan bahwa meski tantangan masih ada, Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan progres positif. “Kita patut mengapresiasi peningkatan penemuan kasus, pelaksanaan investigasi kontak, serta cakupan terapi pencegahan yang terus membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Peringatan HTBS tahun ini mengangkat tema global “Yes! We Can End TB: Commit, Invest, Deliver” dan tema nasional “GIATKAN: Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis dengan Komitmen dan Aksi Nyata”. Selama sebulan terakhir, Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng telah menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif mulai dari kampanye media online, siaran interaktif di RRI dan MMC Diskominfosantik, hingga penyuluhan melalui videotron di titik strategis seperti Bundaran Besar dan Bandara Tjilik Riwut.
Selain itu, kegiatan Temu Kader TBC juga menjadi ruang diskusi produktif antara kader, penyintas, dan pengelola program. Puncak peringatan HTBS diwarnai dengan senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi seputar TBC, dan partisipasi dari berbagai kalangan termasuk tenaga kesehatan, pelajar, mahasiswa, organisasi profesi, serta mitra pembangunan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Kalimantan Tengah untuk berperan aktif dalam eliminasi TBC. Mulailah dari mengenali gejala, tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, hingga memberikan dukungan kepada pasien untuk menuntaskan pengobatannya,” tutup Riza. Peringatan HTBS ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan berkelanjutan dari individu, keluarga, hingga komunitas, demi terwujudnya Kalimantan Tengah yang lebih sehat dan bebas TBC.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post