PALANGKA RAYA – Sebanyak 25 putra-putri Dayak akan tampil pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia di Istana Negara pada 17 Agustus 2024 dengan menampilkan tarian khas Dayak. Mereka dipilih dari berbagai sanggar di Kalimantan Tengah oleh Dewan Kesenian Daerah Provinsi Kalteng.
Para penari ini telah menjalani latihan intensif selama sebulan terakhir dan dipimpin oleh koreografer berpengalaman, Beny dan Marini, serta dipantau langsung oleh Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kalimantan Tengah, Thoeseng TT Asang.
Kegiatan ini merupakan sejarah bagi Indonesia karena pertama kalinya ditampilkan di Istana Negara, Jakarta, dan direncanakan akan menjadi sorotan pada perayaan HUT ke-79 Republik Indonesia. Tarian khas Dayak memiliki keunikan tersendiri dan diharapkan dapat memberikan warna berbeda pada peringatan HUT RI kali ini.
“Kami sangat bangga bisa menampilkan kebudayaan Dayak di Istana Negara. Ini adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan kekayaan budaya kami kepada seluruh bangsa Indonesia,” ujar Thoeseng TT Asang, Jumat 26 Juli 2024.
Tim penari yang terdiri dari 25 orang dibentuk dan disiapkan dalam waktu singkat. Koreografer harus menggabungkan gerakan dari berbagai sanggar untuk membuat tarian yang menyatu dan diharapkan memiliki makna filosofis di balik setiap gerakan.
“Penari harus menguasai gerakan yang kompleks dan membutuhkan stamina yang kuat. Namun, mereka sangat luar biasa dalam latihan dan memahami makna dari setiap gerakan tarian tersebut,” imbuh Thoeseng.
Penampilan ini diharapkan dapat memperkaya dan memperkenalkan keragaman budaya Indonesia pada perayaan kemerdekaan Indonesia. Kiprah para seniman ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan kebudayaan daerah mereka.
Dewan Kesenian Daerah Provinsi Kalteng juga mengapresiasi dukungan dari Pemprov Kalteng, Bapak Gubernur H Sugianto Sabran, Wakil Gubernur H Edy Pratowo, dan DAD Kalteng serta sanggar, sehingga latihan dapat terlaksana dengan baik dan penari yang dipilih, benar-benar dari setiap sanggar yang memiliki jam terbang yang bagus
“Kami sangat berterima kasih atas support dari Pemprov Kalteng dalam hal ini Bapak Gubernur H Sugianto Sabran dan Wakil Gubernur H Edy Pratowo dan juga DAD Kalteng serta sanggar,” ucapnya.
Marini, salah seorang koreografer menambahkan bahwa para penari juga dilatih untuk memahami makna dari setiap gerakan tarian tersebut. “Kami tidak hanya melatih gerakan fisik, tetapi juga makna filosofis di balik setiap gerakan. Ini penting agar penampilan mereka nanti tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna,” ujar Marini.
Pementasan tarian khas Dayak ini juga diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan kebudayaan daerah mereka. “Kami berharap ini bisa menjadi contoh bagi generasi muda lainnya untuk terus melestarikan kebudayaan kita,” pungkas Thoeseng.
Pada kegiatan itu, Kalteng mengutus 25 orang penari, dan 10 orang official serta pendamping tim tari. Kegiatan ini, merupakan sejarah bagi Indonesia, karena kegiatan dilaksanakan di IKN dan juga Jakarta.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post