PALANGKA RAYA – Bypass coronary atau bedah jantung terbuka merupakan salah satu bentuk pengobatan untuk penyakit jantung koroner yang sering terjadi pada banyak orang. Namun, biaya operasi bypass coronary termasuk tinggi, dengan rata-rata di atas 100 juta.
Dalam pelaksanaan bedah jantung terbuka, persiapan pasien yang baik menjadi salah satu faktor kunci kesuksesan operasi. Hal ini diungkapkan oleh dr. Adrian, Dokter Spesialis Anestesi dan Pasca Operasi dari RS Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.
dr. Adrian menyebutkan kedua pasien yang dioperasi pada bedah jantung terbuka perdana di Kateng ini, termasuk dalam kategori low risk, sehingga operasi sendiri berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Bahkan, pelaksanaan operasi dilakukan lebih cepat dari perkiraan waktu sebelumnya.
“Proses pemantauan pasien pasca operasi pun sangat penting untuk menjamin pemulihan yang baik, masa observasi pasien kurang lebih selama 5-7 hari. Pasien pertama sudah sadar penuh dan dapat bernapas tanpa bantuan alat setelah menjalani operasi. Pasien akan segera dimobilisasi untuk melakukan aktivitas sederhana, dan secara bertahap akan dilepas dari peralatan bantu medis. Jika proses mobilisasi pasien berjalan lancar, mereka dapat segera pulang dari rumah sakit,” sebut dr. Adrian.
Ia juga menambahkan, saat pemulihan pasca operasi, perawatan luka adalah hal yang sangat penting untuk mencegah adanya infeksi. Pasien perlu melakukan terapi pasca operasi dari dokter kardiologi dan spesialis lainnya untuk memastikan pemulihannya berjalan dengan baik. Selain itu, pasien juga akan diberikan edukasi tentang pentingnya melakukan kontrol rutin dan mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih sehat.
Meskipun biaya operasi bypass coronary cukup tinggi, dengan proses persiapan pasien yang baik dan pemulihan yang benar, pasien dapat memperoleh hasil yang baik dan mempercepat pemulihan pasien.
“Semoga program Pengampu Jejaring Rujukan Kardiovaskuler Nasional dapat membantu memperatasai biaya operasi bedah jantung terbuka dan meningkatkan pelayanan kardivaskuler di Indonesia untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan akibat penyakit kardiovaskular,” harap Adrian.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr Doris Sylvanus, Ady Fraditha mengatakan, kedua pasien yang telah sudah selesai dioperasi kini sudah dalam kondisi baik. Kedua pasien sudah berada di ruang ICU, dan kondisinya terus dilakukan pemantauan oleh tim medis
“Kita bersyukur operasi jantung terbuka ini dapat berjalan baik. Tentunya ini menjadi harapan baru bagi kita semua, dalam rangka mengurangi angka kematian karena penyakit jantung,” katanya.
Menurut Ady, operasi jantung terbuka ini dilakukan dengan supervisi dari dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit (RS) Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, sebagai pengampu layanan jantung di Indonesia.
“Tentunya dengan bantuan teman-teman dari RS Harapan Kita, Insyaallah ke depan RSUD dr Doris Sylvanus bisa mandiri untuk operasi jantung terbuka ini,” jelasnya.
Ady mengungkapkan, pendanaan kegiatan operasi dan perawatan kedua pasien tersebut menggunakan anggaran dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dengan dibantu dari BPJS Kesehatan.
(vi/matakalteng.com)






















Discussion about this post