SAMPIT – Meski sudah mendekati pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Kotawaringin Timur, namun hingga saat ini diketahui belum ada pergerakan pasti dari tokoh tokoh partai maupun masyarakat yang akan mencalonkan diri dalam Pilkada 2024 tersebut.
Bahkan sejumlah nama yang mencuat dari dorongan masyarakat saat dikonfirmasi juga belum memastikan pencalonan dirinya, serta kebanyakan mengatakan belum ada koordinasi dalam internal partai.
“Kami belum menentukan arah dukungan politik,” kata Ketua DPD Partai Nasdem Kotim, Ansen Tue, Senin, 1 April 2024.
Diketahui, Nasdem dengan komposisi tiga kursi hasil pemilihan legislatif berperan besar untuk bisa mengusung calon. Namun ujarnya, Nasdem menginginkan menjadi pengusung, bukan hanya pendukung.
“Tetapi memang sekarang kita masih belum ada terjalin dengan siapa pun,” ucapnya.
Menurutnya, gerakan para tokoh dan calon kepala daerah hingga saat ini memang belum kelihatan. Padahal pada Pilkada sebelumnya, beberapa bulan menjelang Pilkada seperti sekarang ini sudah banyak pergerakan bahkan mulai mencari arah dukungan.
”Pertanyaan yang mendasar ini, apakah ada penantang dari petahana nantinya? Karena sejauh nama yang mencuat, saya lihat belum ada yang serius. Hanya sekadar lempar bola, sampai hari ini belum ada melihat calon yang sudah penjajakan hingga pembentukan tim,” ujarnya.
Terpisah, tokoh partai senior di Golkar, yakni Supriadi menilai, saat ini dari sejumlah nama yang mencuat akan menjadi calon Bupati dan Wakil Bupati Kotim semuanya terkesan maju mundur.
“Entah apa kendalanya. Kalau memang mau mencalonkan diri, ya sampaikan ke publik. Mulai gerakkan tim dan relawan. Tapi, nyatanya sampai hari ini khusus Pilkada Kotim itu tidak ada. Bahkan dari pertahana sendiri juga tidak ada pergerakan,” ujarnya.
Dia berkesimpulan dengan kondisi saat ini, kemungkinan petahana akan kembali mencalonkan diri dengan lawan politik yang mudah ditaklukkan. Mengingat dengan waktu yang relatif singkat, akan sulit karena perlu waktu membangun branding politik calon.
“Memang harus banyak pertimbangan dalam mencalon, apalagi terkait finansial. Kalau hanya modal Rp10-20 miliar, habis untuk tim dan logistik saja, karena saya sendiri sudah mengalami,” bebernya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post