SAMPIT – Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mendorong penguatan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah penerima dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).
Salah satu upaya strategisnya adalah melalui pelatihan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang melibatkan kepala sekolah dan tenaga pendidik dari jenjang TK hingga SMA.
Kepala Disdik Kotim, Muhammad Irfansyah menegaskan bahwa pelatihan ini menyasar sekolah-sekolah yang menerima dana BOSP kinerja, dengan fokus utama pada pengembangan kurikulum nasional melalui pendekatan yang berbasis kesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
“Kegiatan pembelajaran mendalam ini utamanya dalam pengembangan kurikulum nasional dengan pendekatan pertama berbasis kesadaran, kedua bermakna dan yang ketiga menggembirakan,” jelas Irfansyah, Rabu 30 Juli 2025.
Ia menambahkan, kurikulum merdeka tetap menjadi dasar pembelajaran, namun guru dan kepala sekolah didorong untuk melakukan inovasi dengan relaksasi kurikulum yang memasukkan kecerdasan buatan (AI) dan coding sebagai bagian dari pembelajaran.
Menurutnya, seluruh peserta pelatihan berasal dari Kotim dan kegiatan difasilitasi oleh Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Kalimantan Tengah.
“Kegiatan ini memang baru untuk sekolah yang mendapatkan dana BOSP, karena belum bisa diakomodasi seluruh sekolah sekaligus,” terangnya.
Dari total sekitar 400 hingga 500 sekolah di Kotim, hanya sebagian yang bisa mengikuti pelatihan tahap awal ini.
“Sisanya akan kami anggarkan melalui APBD agar pelatihan serupa dapat menjangkau seluruh satuan pendidikan yang belum terlibat,” tambahnya.
Tujuan utama pelatihan ini, lanjut Irfansyah, bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi pendidik, tetapi juga agar sekolah dapat menginternalisasi filosofi pembelajaran mendalam sebagai orientasi kepemimpinan dan pengelolaan sekolah yang proaktif.
Sekolah juga didorong untuk menggunakan dana BOSP secara strategis dan akuntabel, khususnya untuk mendukung program supervisi akademik dan pelatihan lanjutan.
“Terakhir dan yang terpenting menjadikan sekolah sebagai ekosistem pembelajaran yang transformatif, kolaboratif, dan inklusif,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post