SAMPIT – Melalui program pembinaan yang dilaksanakan secara alamiah oleh para pembimbing melalui program ekstrakurikuler penelitian dan KIR, SMPN 1 Sampit banyak mencetak peneliti muda. Hal itu terbukti dengan dikirimnya 38 siswa asal SMPN 1 Sampit untuk mengikuti seleksi peneliti belia di tingkat provinsi Kalimantan Tengah.
“Selain pengefektifkan program eksrakurikule penelitian, kami juga bermitra dengan orang tua. Hal ini sangat efektif, sehingga dalam memetakan potensi bidang yang diteliti, peran orang tua sangat membantu dalam pendampingannya,”kata Kepala SMPN 1 Sampit, Suyoso, Selasa 3 Desember 2024.
Menurutnya, anak-anak di fasilitasi secara optimal melalui program sekolah maupun mitra dengan orang tua. Tak hanya itu, potensi lingkungan di Kota Sampit menurutnya sangat mendukung untuk dilaksanakan penelitian.
Tambahnya, penelitian merupakan salah satu kompetensi yang penting untuk anak-anak ke depan calon pemimpin, agar pada saatnya nanti memiliki kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan, kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan di masyarakat.
“Dasarnya yaitu, mereka dibiasakan untuk membaca data, terbiasa memaparkan data, dan terbiasa melakukan kegiatan yang bersifat ilmiah. Itu tujuannya, dan kita bersyukur di SMP Negeri 1 Sampit animo untuk melaksanakan penelitian itu memang sangat tinggi, sampai tingkat provinsi babak pertama itu terkirim 38 siswa pendaftar, kemudian lolos 28 siswa,”bebernta.
Setelah lolos karya tulis lanjutnya, ada penilaian substansi dari inovasi. Setelah itu ditetapkan ada 26 siswa dari SMPN 1 Sampit yang lolos.
Dilanjutkan dengan penilaian APPIK yaitu asli, penting, perlu, ilmiah dan konsisten. Yang mana dalam seleksi peneliti belia ini pemenang akan mewakili Kalteng. Peserta tidak hanya dari jenjang SMP namun juga SMA/SMK.
Finalnya ada 18 siswa SMPN 1 Sampit yang dinyatakan lolos ke tingkat nasional berdasarkan ambang batas atau passing grade.
“Harapan dan tujuan kita yang pertama adalah memberikan pengalaman untuk anak-anak kita, khususnya melalui ajang tingkat nasional. Karena bertemu dengan momen nasional yang gridnya momen internasional itu sangat penting, jadi bukan untuk kalah atau menang, tetapi mendapatkan pengalaman,”ungkap Suyoso.
Yaitu tambahnya, baagaimana berkompetisi, mendapatkan pengalaman, dan menemukan berbagai inovasi karya-karya milik putra-putri seluruh Indonesia.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post