SAMPIT – Wakil Ketua Forum Literasi Kabupaten Kotawaringin Timur, Sugiarti mengatakan, remaja khususnya pada sekolah menengah hingga universitas seharusnya menjadi pelopor dalam kegiatan literasi.
Mamun dirinya menyayangkan bahwa kegiatan literasi pada remaja khususnya yang melibatkan remaja saat ini masih sangat minim. Sehingga diperlukan kegiatan semacam pelatihan untuk meningkatkan literasi di kalangan remaja.
“Maka dari itu ada bantuan pemerintah melalui badan bahasa Republik Indonesia Kemendikbud Ristek untuk melaksanakan kegiatan pelatihan dan lokakarya. Dalam kegiatan ini kami melaksanakan menulis fraksi untuk masyarakat umum dan generasi muda,”ujarnya, Kamis 17 Oktober 2024.
Lanjutnya, beberapa generasi muda berasal dari universitas di sekitar kota Sampit dan mereka di giatkan untuk belajar menulis kembali tentang budaya yang ada di Kotim.
“Kegiatan ini tidak satu kali ini saja tetapi kami juga mengadakan yaitu menulis dongeng dan kegiatan menulis cerita inspiratif untuk penggiat literasi. Budaya menulis ini khususnya di kalangan generasi muda saat ini sangat kurang,”bebernya.
Untuk itu, perlu kiranya ditingkatkan. Dan berdasarkan kekhawatiran itulah pihaknya melalui dana dari Kemendikbud Ristek bergerak mengajak mahasiswa khususnya generasi muda yang seharusnya mereka adalah sebagai pelopor dari literasi.
“Terutama kita menyadari, sekarang ini kegiatan berliterasi di kalangan mereka untuk menulisnya lebih aktif pada media sosial, dan kurang pada menulis yang menimbulkan imajinasi dan kemampuan berpikir kritis mereka,”ungkapnya.
Tambahnya, tujuan Kemendikbud sendiri memberikan dana ini adalah untuk membangun literasi di kalangan masyarakat umum dan generasi muda. Karena itu pihaknya juga mengundang tidak hanya bapak ibu guru tetapi juga ada beberapa mahasiswa.
“Forum literasi berharap kegiatan ini hasilnya nanti bisa menjadi referensi, karena banyak sekali budaya-budaya Kalimantan Tengah khususnya Kotawaringin Timur yang saat ini sudah terlupakan dan sudah hilang,”bebernya.
Bberbagai budaya itu kata Sugiarti, sebenarnya wajib diingat. Apalagi sebagai guru harus melestarikannya untuk memberikan tahukan kepada orang lain. Karena satu peluru memang bisa menembus satu kepala namun satu buku bisa menembus ribuan kepala. Dengan kata lain keberadaan satu buku bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Semoga para peserta yang kami libatkan dalam kegiatan belajar menulis ini baik itu muatan lokal, cerita inspiratif, maupun dongeng daerah dapat memberikan karya terbaiknya dan menjadi referensi untuk daerah ini. Mari bersemangat untuk memajukan literasi di Kotim,”tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post