SAMPIT – Tersebar luas video adu fisik antar pelajar di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu SMA PGRI 2 Sampit yang saat ini ramai menjadi perbincangan masyarakat terkait kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah, juga menjadi sorotan di kalangan praktisi pendidikan.
Adu fisik yang diawali dengan adanya kesalahpahaman salah satu siswa saat beraktifitas di luar ruang belajar, berakibat memancing banyak siswa ikut serta saling pukul dan didokumentasikan dengan rapi bak drama kisah kelam di sekolah. Praktisi pendidikan Kotim, Deny Hidayat memberikan saran kepada sekolah untuk mengusut permasalahan tersebut dengan bijak, persuasif dan edukatif.
“Permasalahan seperti ini memang tidak dapat dipungkiri akan selalu berpotensi terjadi dilingkungan sekolah, karena memang perkembangan fisik dan psikis anak pada masa SMA masih dalam pencarian jati diri dan komunikasi sosialnya,” kata Deny, Sabtu 20 Mei 2023.
Dimana ujarnya, siswa sering berkumpul dan berteman sesuai circlenya dan mudah sekali saling singgung dan adu gengsi. “Terkait adu mekanik di lingkungan sekolah yang terjadi dan menjadi konsumsi publik baik dikalangan pelajar dan masyarakat tentu saja menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan di Kotim,” tegasnya.
Hal seperti ini menurutnya, sudah seharusnya dapat dicegah dan diminimalisir sedemikian rupa agar tidak terjadi lagi dimasa-masa mendatang. Sekolah sudah seharusnya menyelesaikan masalah ini dengan bijak, dengan terlebih dahulu mencari akar permasalahannya dan mencari solusi yang terbaik dengan menghadirkan keterlibatan orangtua/wali siswa, tentu atas dasar kekeluargaan dan semangat saling memaafkan.
“Sekolah juga harus menggunakan komunikasi yang persuasif kepada seluruh siswa yaitu mengajak dan menghimbau seluruh siswa untuk saling menjaga ketertiban, keamanan dan kenyamanan belajar mengajar di sekolah sesuai tata tertib sekolah sehingga dalam beraktifitas di lingkungan sekolah penuh kehati-hatian dan menjaga kepentingan bersama,” ujarnya.
Sekolah juga tambah Deny, sudah seharusnya memberikan hukuman yang edukatif, dalam hal ini memberikan hukuman yang berdasar pada pelajaran berharga untuk saling menghormati dan memaafkan. Tidak mengedepankan emosi dan pertentangan pendapat yang bisa mengakibatkan permasalahan yang berbuntut panjang kedepan.
“Peran sekolah tentu sangat penting, pihak sekolah dengan keterlibatan para guru bimbingan konseling dan guru-guru lainnya perlu mencegah kejadian-kejadian serupa terjadi lagi di sekolah dan tidak menjadi konsumsi publik,” kata Deny.
Adu mekanik di sekolah yang menjurus kekerasan dan kenakalan remaja tentu saja sangat dilarang. Siswa diharap dapat menjadikan hal tersebut pelajaran berharga dan lebih mengedepankan adu prestasi dan adu kepedulian. “Semoga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi dan tidak menjadi konsumsi publik,” tutupnya.
(dia/matakalteng.com)






















Discussion about this post