SAMPIT – Kurangnya sarana dan prasarana di sekolah memang tidak jarang ditemukan, khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Salah satunya Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kota Besi yang saat ini kekuranhan ruang kelas.
Kepala sekolah (Kepsek) SMPN 1 Kota Besi Suyoso mengatakan, sejak dirinya menjabat sebagai kepala SMPN 1 Kota Besi dari tahun 2017, peminat masyarakat Kota Besi menyekolahkan anaknya di SMPN 1 Kota Besi mulai meningkat. Pasalnya manajemen sekolah dirinya rubah menjadi agamis.
“Karena masyarakat di Kota Besi ini banyak yang menyekolahkan anaknya di pesantren dan sejak manajemen sekolah saya rubah menjadi agamis peminatnya semakin banyak. Namun kendalanya saat ini kita kekurangan ruangan, bahkan kadang anak-anak harus meminjam ruang lab untuk belajar,” ujarnya, Rabu 10 Maret 2021.
Suyoso mengaku, dirinya sempat dimarahi para orang tua karena kekurangan ruang kelas ini. Bahkan untuk sisrem zona ada anak yang tidak bisa diterima di SMPN 1 Kota Besi karena kuota sekolah sudah penuh.
“Padahal anak tersebut masih dalam zona, namun jauh. Ada yang masih di zona 2 km, namun di zona 1 km sudah banyak yang mendaftar. Karena ruang kelas tidak mencukupi kita tidak bisa lagi menerima,” ujarnya. Meski demikian, menurutnya anak-anak yang tidak diterima tersebut tetap difasilitasi sekolah agar bisa bersekolah di sekolah lain.
Dirinya menjelaskan, semakin diminatinya SMPN 1 Kota Besi karena banyak mencetak anak didik berprestasi hingga nasional. Dimana pihaknya juga menerapkan sistem piagamisasi, bagi anak-anak yang selalu berpakaian rapi akan diberi piagam, anak-anak yang tanpa disuruh tetap menjaga kebersihkan lingkungan juga diberikan piagam.
“Dengan begitu anak-anak akan termotivasi. Masing-masing guru juga memegang 6 hingga 8 siswa untuk dibimbing, sehingga anak-anak tidak hanya belajar akademik namun juga diajarkan untuk menunjukkan bakatnya,” jelas Suyoso.
Kepsek yang menyabet gelas the best leader ini juga mengatakan, pihaknya sadar bahwa pemerintah daerah tidak bisa memenuhi segala pembangunan sekolah. Sehingga pihaknya beberapa kali mengajukan proposal kepada perusahaan-perusahaan yang ada di Kotim.
Sehingga akhirnya pembangunan di SMPN 1 Kota Besi dapat dilakukan, salah satunya pengurukan halaman agar tidak banjir dan bisa membuat jalan serta pintu gerbang. Yang mana bantuan itu disalurkan perusahaan melalui program CSR.
“Yang paling banyak menyumbang itu Brimob untuk menguruk halaman dan PT Silvasari Bauksit yang membantu memberikan handphone kepada anak-anak untuk belajar daring, serta masih banyak lagi bantuan yang diberikan oleh sejumlah perusahaan,” ungkapnya.
Bahkan ujarnya, karena itu juga pihaknya mampu menyabet gelar the best leader di tengah pandemi ini. Lantaran bisa menggerakkan mitra dalam pengawasan dan memberikan bantuan.
Selain kekurangan ruangan kelas, dirinya mengaku juga kekurangan tenaga pendidik. Dimana guru PNS yang mencukupi saat ini hanya guru B Inggris, sedangkan untuk guru pelajaran lainnya masih kurang, terutama guru agama.
“Karena kita tidak hanya membina anak-anak beragama Islam, namun juga agama lainnya. Sehingga masih kurang guru agama, khususnya agama khatolik,” bebernya.
Suyoso mengaku, dengan keadaan demikian para siswanya tetap bisa menunjukkan prestasi yang membanggakan. Bahkan para siswa/i di SMPN 1 Kota Besi telah mencetak 4 buku yang sudah be ISBN. “Judul bukunya antologi pandemi, semua sebab korona, tradisional food off Sampit dan tradisional saos off Sampit,” ungkapnya.
Lanjutnya, pihaknya tidak menyalahkan pihak manapun atau merengek meminta bantuan untuk pembangunan sekolah. Namun pihaknya hanya bisa mengusahakan agar anak-anak bisa senang belajar dan bisa mengeluarkan potensi yang dimilikinya.
(dia/matakalteng.co.id)






















Discussion about this post