PALANGKA RAYA – Menteri Dalam Negeri M. Tito Karnavian dalam paparannya pada rapat koordinasi pengendalian inflasi mengungkapkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis tren inflasi Indonesia untuk bulan November 2024.
Inflasi tahun ke tahun (November 2024 dibandingkan November 2023) tercatat sebesar 1,55%, dengan sektor makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil inflasi yang sama, yakni 1,55%. Sementara itu, inflasi bulan ke bulan (m-to-m) tercatat sebesar 0,30%.
Tito juga menyoroti perjalanan inflasi Indonesia sepanjang sejarah, seperti pada tahun 1966 saat Indonesia mengalami hiperinflasi dengan angka mencapai 635,4%. Inflasi tinggi juga tercatat pada tahun 1998, di tengah krisis moneter, dengan angka 77,63%.
“Pada tahun 2005 dan 2008, inflasi masing-masing tercatat 17,11% dan 11,06%, disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia dan krisis subprime mortgage global. Inflasi pada bulan September 2022 bahkan mencapai 5,95%, sementara inflasi tahunan 2022 berada di angka 5,51%,” ungkap Tito.
Selain itu, Tito Karnavian menyampaikan bahwa berdasarkan data inflasi bulan November 2024, terdapat 8 provinsi yang inflasinya berada pada rentang sasaran inflasi 2,5±1%. Di tingkat kabupaten/kota, terdapat 46 wilayah dengan inflasi yang juga berada dalam rentang tersebut, dengan inflasi tertinggi tercatat di Timika (3,69%) dan inflasi terendah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (-2,37%).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pada tahun 2022 inflasi tahunan (y-to-y) tercatat 5,51%, dengan sasaran inflasi sebesar 3±1%.
“Pada tahun 2023, inflasi menurun menjadi 2,61%, dan pada 2024, inflasi y-to-y tercatat 1,55%, dengan inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,12%. Sasaran inflasi tahun 2024 dipatok pada 2,5±1%,” jelasnya.
Amalia juga menjelaskan tentang perbedaan inflasi y-to-d dan y-to-y. Inflasi y-to-d mengukur perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan berjalan dibandingkan dengan Desember tahun sebelumnya, sedangkan inflasi y-to-y mengukur perubahan IHK bulan berjalan dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang turut hadir dalam rapat tersebut, memberikan arahan mengenai pentingnya pengendalian inflasi yang konsisten guna menjaga stabilitas ekonomi negara. Prabowo juga menekankan perlunya penguatan perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia, yang berkontribusi besar bagi devisa negara, agar hak-hak dan kesejahteraan mereka tetap terjaga.
Prabowo turut mengingatkan tentang potensi dampak deflasi, yang jika terjadi dapat menyebabkan penurunan harga barang secara drastis dan mengurangi motivasi petani untuk menanam, yang akhirnya berujung pada lonjakan harga.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga memberikan arahan terkait kebersihan kota. Beliau menyoroti banyaknya baliho yang terpajang tidak teratur di berbagai tempat, yang dapat mengganggu keindahan kota. Diharapkan, hal ini menjadi perhatian pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan yang lebih tertib dan asri.
Dengan perkembangan inflasi yang terkendali dan fokus pada perlindungan pekerja serta kebersihan kota, pemerintah berharap dapat menjaga keseimbangan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat di seluruh Indonesia.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post