SAMPIT – Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) dari Daerah Pemilihan (Dapil) III, Rudianur, menyoroti banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah pesisir di Kabupaten Kotim, terutama di kawasan sekitar Sungai Mentaya.
Ia menegaskan bahwa banjir yang terjadi saat ini bukan sepenuhnya disebabkan oleh curah hujan tinggi, melainkan akibat pasang rob yang kian parah dari tahun ke tahun.
Menurut Rudianur, fenomena pasang rob tersebut terjadi karena pengaruh air laut yang naik hingga ke daratan.
“Sebenarnya bukan banjir yang menetap, tapi akibat pasang rob. Mungkin ada pengaruh dari laut sana, kalau malam itu air pasang tinggi sekali. Banyak rumah warga yang tenggelam akibat pasang,” ujarnya, Kamis 13 November 2025.
Ia menambahkan, meskipun banjir akibat hujan belum terlalu parah, namun ketika bersamaan dengan pasang rob, air tidak sempat kembali ke sungai sehingga menimbulkan genangan yang meluas. Kondisi itu diperparah oleh pendangkalan di aliran Sungai Mentaya, terutama di bagian muara.
“Menurut saya, solusinya adalah arus dari muara menuju Sungai Mentaya harus dilakukan pengerukan, seperti yang dulu pernah direncanakan oleh Pak Bupati. Kalau bisa segera ditindaklanjuti, jangan hanya jadi wacana. Karena salah satu penyebab utama banjir ini adalah pendangkalan yang membuat air cepat masuk tapi lambat keluar,” jelasnya.
Rudianur menilai, pengerukan Sungai Mentaya akan memberikan banyak manfaat. Selain mengurangi risiko banjir, langkah tersebut juga akan menunjang kelancaran aktivitas ekonomi.
“Kalau sungai dikeruk, banyak keuntungan yang didapat. Aktivitas kapal kargo dan kapal barang bisa lebih nyaman, kapal penumpang juga bisa masuk tanpa menunggu air pasang,” imbuhnya.
Politikus Partai Golkar itu menuturkan, kondisi banjir saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, rumah warga di bantaran sungai masih aman dari genangan air, namun kini bahkan rumah yang sudah ditinggikan pun ikut tenggelam.
“Ini di luar dugaan. Saya turun langsung melihat rumah warga yang sudah tinggi saja masih tenggelam. Artinya situasi ini makin parah,” ujarnya prihatin.
Lebih lanjut, ia mengusulkan agar pengerukan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari muara hingga ke daerah Samuda, Bagendang, dan sekitar penyeberangan menuju Pulau Hanau. Menurutnya, banyak sungai yang selama ini hanya digali di bagian atasnya saja, sementara muaranya tetap dangkal, sehingga air sulit mengalir dengan lancar.
“Kalau yang digali hanya bagian atasnya, sedangkan muaranya tidak, tetap saja air tidak bisa keluar. Karena air itu mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Justru muaranya yang harus jadi fokus utama,” tegasnya.
Rudianur juga menyoroti lemahnya perhatian pemerintah dalam penanganan masalah banjir tahunan ini. Ia menilai, penggunaan alat berat seperti ekskavator amfibi pun belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Saya menilai penggunaan ekskavator amfibi juga kurang maksimal diturunkan, alasannya tidak ada biaya. Jadi tinggal pemerintah serius atau tidak saja menangani ini,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post