SAMPIT – Infrastruktur dasar di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih jauh dari kata layak. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat, mulai dari jalan, jembatan, hingga fasilitas kesehatan yang tidak pernah mendapat perhatian serius pemerintah daerah.
Anggota DPRD Kotim dari Dapil III, Akhyannoor, mengatakan bahwa keluhan tersebut sudah bertahun-tahun disuarakan warga, namun hingga kini belum ada solusi nyata.
“Masyarakat sangat menunggu bukti nyata. Itu janji Harati pada masa kampanye yang seharusnya mulai direalisasikan,” ujarnya, Kamis 11 September 2025.
Menurutnya, ada sejumlah infrastruktur vital yang sudah puluhan tahun rusak parah, seperti Jembatan Sapihan Besar di perbatasan Kelurahan Basirih Hilir dan Samuda Kota, jembatan Sungai Jejangkit, serta jembatan di Desa Basirih.
Semua akses itu sangat penting bagi aktivitas ekonomi warga, mengangkut hasil pertanian, hingga mendukung anak-anak sekolah.
Selain itu, Jalan H. Muhammad Noor di Samuda Kota juga mengalami kerusakan parah tanpa perbaikan bertahun-tahun.
“Selama ini perbaikan hanya dilakukan swadaya masyarakat. Kalau tidak segera diperhatikan, kerusakan ini bisa menimbulkan kecelakaan dan merugikan warga,” tegas Akhyannoor.
Ia juga menyoroti kondisi Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Bapinang Hilir Laut, Kecamatan Pulau Hanaut, yang sudah berdiri lebih dari 34 tahun tanpa pernah direhabilitasi. Saat ini, bangunan itu dalam kondisi rusak parah dan tidak layak untuk pelayanan kesehatan.
“Harapan kami agar ini menjadi perhatian. Jika memang ada keterbatasan anggaran, maka bisa dilakukan secara bertahap, yang penting masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” tambahnya.
Akhyannoor memastikan seluruh aspirasi tersebut sudah ia sampaikan dalam hasil reses. Ia mendorong agar Pemkab Kotim mengalokasikan anggaran perbaikan infrastruktur di wilayah selatan dalam APBD 2026 sehingga masyarakat tidak lagi merasa dianaktirikan.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post