SAMPIT – Harapan ratusan pedagang di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk memiliki kios yang layak di Pasar Mangkikit masih menggantung. Satu dekade sudah proyek pembangunan pasar tersebut berjalan tanpa kejelasan, menyisakan tanda tanya besar dan kekecewaan mendalam dari para pedagang yang telah menyetor uang untuk lapak yang tak kunjung rampung.
Ketua Fraksi PKB DPRD Kotim, Muhammad Abadi, angkat bicara mengenai lambannya penanganan proyek ini. Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Kotim segera mengambil langkah konkret.
“Kita harus ada solusi nyata menyelesaikan Pasar Mangkikit yang dibangun pihak ketiga dan sampai sekarang belum terlihat ada perubahan atau gerakan dari pemerintah daerah,” kata Abadi, Jumat 11 April 2025.
Polemik Pasar Mangkikit bermula sejak masa pemerintahan Supian Hadi dan berlanjut hingga kini di era Bupati Halikinnor. Pada 2020, Supian Hadi sempat menyatakan keinginan mengambil alih bangunan pasar tersebut untuk diselesaikan oleh pemerintah daerah.
Namun hingga kini, progresnya masih belum terlihat nyata. Abadi menekankan pentingnya transparansi dan percepatan proses penyelesaian. Ia menyebut bahwa berdasarkan informasi, banyak pedagang sudah menyetorkan dana untuk lapak, tetapi bangunan pasar tidak kunjung selesai.
Ia mendorong agar nilai bangunan yang sudah dikerjakan PT Heral segera ditaksir oleh aprisal dan pemerintah daerah membayar hasil penaksiran tersebut agar pembangunan bisa dilanjutkan.
“Ini bukan hanya soal proyek fisik. Ini soal kehidupan pedagang, soal ekonomi masyarakat kecil yang terus tertunda akibat ketidakjelasan proyek,” tegas Abadi.
Menindaklanjuti persoalan ini, Pemkab Kotim telah menggelar rapat internal pada awal tahun, dan memerintahkan seluruh SOPD terkait untuk menelaah dokumen pembangunan serta melakukan survei lapangan guna menentukan nilai bangunan.
Pada 2023 lalu, Bupati Halikinnor juga menyampaikan akan melakukan audit terhadap proyek tersebut dan menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan hingga selesai.
Namun, sampai April 2025, janji itu belum kunjung terealisasi. Pedagang masih menanti kepastian, sementara bangunan yang diharapkan menjadi sumber penghidupan mereka, tetap berdiri setengah jadi.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post