SAMPIT – Pengembangan Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dari tahun ke tahun dinilai sudah mengalami perkembangan, bahkan untuk persoalan tanah warga di kawasan itu juga sudah diselesaikan oleh pemerintah.
“Namun di awal tahun 2024 ini hampir pertengahan tahun kita belum mendengar kelanjutannya lagi. Sudah sampai tahap mana, untuk itu kita mendorong pemerintah Kabupaten terus mengawal pengembangan bandara ini agar diperhatikan pemerintah pusat,” kata Ketua DPRD Kotim, Rinie Anderson, Selasa 16 April 2024.
Menurutnya, Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) terkait, seperti Dinas Perhubungan maupun pihak Bandara H Hasan Sampit harus terus berupaya dan kerja keras meningkatkan Bandara Haji Asan Sampit.
”Sudah tahun 2024 tapi belum ada gambaran untuk peningkatan bandara. Padahal penduduk Kotim ini paling banyak di Kalteng. Sehingga mobilitas dan keperluan transportasinya tentu juga paling tinggi. Ini perlu kerja keras dan semangat, agar peningkatan bandara bisa cepat terwujud,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar pemerintah melalui dinas teknis terus koordinasi dengan pemerintah pusat, dengan harapan tahun 2025 Bandara H Hasan Sampit dapat ditingkatkan. Peningkatan bandara yang dimaksud meliputi perpanjangan serta pelebaran landasan pacu bandara.
Sementara itu belum lama ini Bupati Kotim Halikinnor menginformasikan bahwa pihaknya telah menerima kabar dari Bappedalitbang Provinsi Kalteng terkait pengembangan bandara H Asan Sampit. Yaitu sudah masuk 20 prioritas yang akan dilakukan pada tahun 2025.
“Kita akan terus kawal, supaya segera bandara kita diperpanjang menjadi 2.500 meter serta diperlebar. Yang mana saat ini landasan pacu atau runway Bandara Haji Asan Sampit saat ini 2.040 meter dengan lebar 30 meter. Perpanjangan runway diharapkan bisa dilakukan menjadi 2.500 meter, agar pesawat berbadan lebar dapat mendarat di bandara kita,”ungkapnya.
Jika landasan pacu sudah diperpanjang dan dilebarkan otomatis bisa didarati oleh pesawat berbadan besar, seperti pesawat jenis Boeing 737800 MG berkapasitas 189 seat bahkan jenis Boeing 737-900 ER berkapasitas 195 hingga 215 penumpang.
“Kita harus akui saat ini frekuensi penerbangan masih terbatas, padahal kebutuhan masyarakat terhadap transportasi udara cukup tinggi. Karena terbatas itu akhirnya mereka memilih bepergian melalui bandara di daerah lain seperti Palangka Raya dan Pangkalan Bun,” ujarnya.
Halikinnor meminta perhatian pemerintah pusat, karena peningkatan bandara ini menurutnya kebutuhan yang sangat penting. Hal itu juga dilihat dari jumlah penduduk Kotim yang paling banyak se-Kalteng dan tingkat perekonomian Kotim yang cukup pesat, namun hingga saat ini bandara di Sampit ini hanya bisa didarati pesawat berukuran kecil.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post