SAMPIT – Saat lebaran umumnya masyarakat banyak bepergian dan kerap kali memadati SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM). Bahkan di moment libur lebaran ini hampir semua SPBU penuh dan terlihat antrian mengular baik itu kendaraan roda dua maupun empat.
“Untuk itu kita mengingatkan agar jangan sampai ada SPBU yang nakal misalnya mengurangi ukuran atau penghitungan tidak dimulai dari nol. Karena merasa antrian yang cukup banyak biasanya yang mengisi BBM akan lengah dan tidak memperhatikan nominal awal saat pengisian,”kata Anggota DPRD Kotim, M Abadi, Rabu, 10 April 2024.
Menurutnya, jika hal itu sampai terjadi maka pengelola SPBU bisa memberikan sanksi kepada oknum yang bersangkutan, jika dibiarkan secara otomatis Pertamina harus turun tangan untuk memberikan sanksi atau pemutusan hubungan kerja dengan SPBU nakal itu.
“Untuk itu juga perlu ke aktifan dari masyarakat untuk ikut melakukan pengawasan, jika menemukan adanya kecurangan pada SPBU maka bisa melaporkan kepada pihak yang berwajib atau menghubungi call center Pertamina,”tegasnya.
Dirinya juga mengingatkan agar masyarakat menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan kendaraan agar dalam melakukan perjalanan selama lebaran ini bisa aman dan selamat sampai tujuan.
Sementara itu salah seorang warga Sampit Syahli mengatakan, dirinya sudah dua kali pernah dicurangi salah satu SPBU di Jalan Jendral Sudirman. Dimana saat itu ia mengisi BBM dengan total uang Rp 100.000. Namun tidak seperti biasanya, BBM itu lebih cepat habis dalam beberapa hari.
“Sebelumnya saya tidak memperhatikan juga dimulai dari 0 atau tidak. Tapi saya merasa bensin saya cepat habis dibandingkan biasanya ketika mengisi dengan jumlah yang sama. Karena penasaran saya kembali lagi mengisi di SPBU itu, dan saya sengaja pura-pura tidak melihat. Padahal saya memperhatikan kalau di monitornya sudah tertulis Rp50.000,”bebernya.
Akan tetapi saat melihat nominal itu Syahli mengaku belum berkomentar, dirinya membiarkan petugas SPBU mengisi BBM kendaraannya sampai selesai. Setelah selesai petugas langsung mengatakan total yang di isi Rp 100.000.
“Setelah itu saya langsung bilang bahwa sebelumnya melihat monitor tidak dimulai dari 0 melainkan sudah Rp 50.000. Benar saja, petugas itu langsung mengiyakan dan mengurangi total pembayaran saya. Kalau petugas itu bekerja jujur, pasti dia tidak percaya saya bilang melihat monitor sudah Rp 50.000, karena dia pasti rugi kalau uang pembayaran kurang. Tapi dia langsung percaya, artinya dia tahu nominal memang tidak mulai dari 0 dan karena saya mengatakan melihat jadi dia ketakutan dan akhirnya mengembalikan uang saya,” ungkapnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post