SAMPIT – Tekanan inflasi di Kabupaten Kotawaringin Timur pada awal 2026 semakin terasa, seiring naiknya harga sejumlah kebutuhan konsumsi harian masyarakat. Data terbaru menunjukkan, komoditas tembakau khususnya rokok menjadi salah satu pemicu utama lonjakan inflasi tahunan di daerah ini, bahkan menempati posisi kedua terbesar setelah beras.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi year-on-year.
“Andil inflasi year-on-year kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,51 persen,” sebagaimana disampaikan dalam rilis BPS Kotim, Kamis 5 Februari 2026.
Dalam kelompok pengeluaran tersebut, rokok tercatat sebagai salah satu komoditas yang memberi tekanan cukup besar terhadap inflasi. Andil terbesar berasal dari beras dengan kontribusi 0,20 persen, disusul rokok sebesar 0,14 persen, dan ikan dengan kontribusi 0,13 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kebutuhan pokok pangan, tetapi juga pada komoditas tembakau yang masih menjadi konsumsi rutin sebagian masyarakat.
Secara umum, perkembangan inflasi year-on-year di Sampit selama periode Januari 2025 hingga Januari 2026 menunjukkan tren fluktuatif, dengan puncaknya terjadi pada Januari 2026 yang mencapai 3,85 persen. Pada periode yang sama, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sampit tercatat berada di angka 109,12, mencerminkan adanya peningkatan harga barang dan jasa secara menyeluruh dibandingkan tahun sebelumnya.
Tekanan inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman, dan tembakau.
Kondisi ini dinilai berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat serta dinamika ekonomi lokal, khususnya bagi rumah tangga dengan tingkat pendapatan menengah ke bawah.
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menekan laju inflasi.
Upaya yang didorong antara lain peningkatan produksi lokal, penguatan sistem pengendalian harga, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat agar lebih tahan terhadap gejolak harga.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan rumah tangga serta meningkatkan efisiensi pengeluaran, guna mengurangi dampak tekanan inflasi terhadap kebutuhan sehari-hari.
“Dengan koordinasi lintas sektor dan kebijakan yang tepat sasaran, stabilitas ekonomi daerah diharapkan tetap terjaga, sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat Kotawaringin Timur di tengah tantangan kenaikan harga,”tandasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post