SAMPIT – Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menyesuaikan strategi operasional akibat tekanan ekonomi yang berdampak pada biaya penanganan kebencanaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memengaruhi harga sejumlah perlengkapan pendukung pemadaman yang selama ini masih bergantung pada produk impor.
“Pasti berpengaruh. Selang itu produksinya banyak di China, tentu sedikit banyak akan terdampak. Memang ada rentang waktu tertentu sebelum penyesuaian harga terjadi, tapi pengaruhnya tetap ada,” ujar Multazam, Kamis 4 Juni 2026.
Menurutnya, situasi tersebut mendorong BPBD melakukan berbagai langkah efisiensi agar anggaran yang tersedia dapat digunakan secara maksimal selama musim kemarau berlangsung. Salah satu fokus penghematan dilakukan pada penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk armada operasional.
Untuk menekan pengeluaran, sebagian besar kendaraan kini disiagakan di pos masing-masing dan hanya dikerahkan ketika terdapat kebutuhan yang mendesak atau kondisi darurat.
“Makanya penggunaan bahan bakar harus betul-betul efisien. Unit-unit sebagian besar stay, tidak ada yang bergerak kecuali memang urgent,” katanya.
Selain membatasi mobilitas kendaraan roda empat, pola patroli lapangan juga mengalami perubahan. Petugas kini lebih banyak menggunakan kendaraan roda dua yang dinilai lebih hemat biaya sekaligus lebih mudah menjangkau sejumlah lokasi rawan karhutla.
“Sekarang patroli lebih banyak menggunakan roda dua. Ini bagian dari efisiensi yang kami lakukan,” tambahnya.
Meski harus beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu, BPBD memastikan kesiapsiagaan penanggulangan bencana tetap menjadi prioritas. Efisiensi yang diterapkan bukan untuk mengurangi pelayanan, melainkan memastikan seluruh sumber daya dapat digunakan secara optimal saat dibutuhkan.
“Kita berharap dolar tidak terus naik dan rupiah bisa membaik. Alhamdulillah harga Dexlite sempat turun sekitar Rp3.000, itu sedikit membantu operasional,” ujarnya.
Multazam menegaskan, berbagai penyesuaian yang dilakukan saat ini merupakan langkah strategis agar kemampuan respons BPBD tetap terjaga di tengah tantangan anggaran dan fluktuasi ekonomi global.
“Yang penting kesiapsiagaan tetap berjalan. Kita menyesuaikan strategi agar operasional tetap efektif meskipun ada berbagai keterbatasan,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post