SAMPIT – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Nugroho Kuncoro Yudho, mengungkapkan kekhawatiran atas meningkatnya penggunaan rokok elektronik atau vape di kalangan remaja, yang kini tidak hanya didominasi laki-laki tetapi juga mulai meluas ke remaja perempuan.
“Trennya meningkat, sejalan dengan fenomena nasional dan global. Banyak remaja terpengaruh informasi yang menyesatkan, seperti anggapan vape lebih aman dan modern, ditambah daya tarik rasa dan desain,” ujar Nugroho, Sabtu 18 April 2026.
Menurutnya, persepsi bahwa vape lebih aman merupakan kekeliruan yang berbahaya, karena secara medis penggunaan vape tetap memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan, khususnya pada sistem pernapasan.
Ia menyebut gangguan yang sering muncul meliputi batuk kronis, sesak napas, iritasi saluran napas, hingga meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia.
Lebih jauh, Nugroho menjelaskan bahwa risiko penggunaan vape tidak berhenti pada gangguan ringan. Dalam jangka panjang, pengguna berpotensi mengalami peradangan paru, penurunan fungsi paru, hingga cedera paru yang lebih serius. Selain itu, dampak terhadap sistem kardiovaskular seperti jantung dan pembuluh darah juga menjadi ancaman nyata.
“Dampaknya juga pada jantung dan pembuluh darah, serta menyebabkan ketergantungan nikotin, sama seperti rokok konvensional,” tambahnya. Dia juga menyoroti kandungan berbahaya dalam aerosol vape yang kerap tidak disadari pengguna. Zat seperti nikotin, logam berat, serta senyawa kimia beracun seperti diacetyl dapat masuk ke dalam tubuh melalui uap yang dihirup, berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius.
“Nikotin dapat menyebabkan kecanduan kuat, mengganggu perkembangan otak, dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Sementara zat kimia lainnya juga berbahaya bagi saluran pernapasan,” paparnya. Meski demikian, ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada data spesifik terkait kasus penyakit akibat vape di Kotim, karena sistem pelaporan masih bersifat umum dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitannya.
“Untuk kasus spesifik akibat vape belum terlaporkan secara detail, karena perlu penelitian lebih lanjut,” tandasnya. Dinkes Kotim pun mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah terpengaruh tren yang berkembang tanpa memahami risiko di baliknya. Edukasi dan kesadaran menjadi kunci utama untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas di masa mendatang.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post