SAMPIT – Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Yulita, menyebutkan pola pertanian di wilayah tersebut umumnya memiliki tiga kali masa tanam dalam satu tahun, sehingga petani dapat menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi musim, terutama saat memasuki periode kemarau.
“Secara umum sistem pertanian di Kotim memiliki tiga musim tanam dalam satu tahun yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan curah hujan,” ujar Yulita, Rabu 8 April 2026.
Ia menjelaskan musim tanam pertama biasanya dimulai pada Oktober hingga Januari. Pada periode ini sebagian besar petani menanam padi karena masih berada dalam periode musim hujan yang menyediakan ketersediaan air cukup untuk pertumbuhan tanaman.
Memasuki musim tanam kedua yang berlangsung pada Februari hingga Maret, kondisi curah hujan masih relatif mendukung aktivitas pertanian. Pada periode ini petani masih dapat menanam padi, namun sebagian juga mulai menanam tanaman palawija sebagai alternatif.
Sementara itu, musim tanam ketiga berlangsung pada Juni hingga September yang bertepatan dengan periode kemarau di wilayah Kotim. Pada periode ini petani disarankan untuk mengurangi penanaman padi dan beralih ke tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
“Untuk musim tanam ketiga, kami rekomendasikan petani menanam palawija atau tanaman lain yang lebih tahan terhadap kekeringan, sedangkan padi bisa diistirahatkan sementara jika kondisi air sangat terbatas,” jelasnya.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kerugian akibat kekurangan air pada lahan pertanian ketika curah hujan menurun selama musim kemarau.
Tanaman palawija dinilai lebih adaptif terhadap kondisi kering dibandingkan padi yang membutuhkan pasokan air lebih banyak selama masa pertumbuhan.
Karena itu, petani didorong untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim agar produktivitas lahan tetap terjaga sekaligus meminimalkan risiko gagal panen.
Dalam menentukan jadwal tanam yang tepat, Dinas Pertanian juga menggunakan sistem Kalender Tanam Terpadu (Katam) yang berbasis pada data iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Melalui sistem tersebut, informasi mengenai prediksi curah hujan, musim kemarau, maupun musim hujan dapat dimanfaatkan sebagai dasar dalam menentukan waktu tanam yang paling sesuai.
“Dengan kalender tanam terpadu ini, petani dapat menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi iklim yang diprediksi sehingga risiko kerugian akibat perubahan cuaca dapat ditekan,” katanya.
Yulita menambahkan penyesuaian jenis tanaman dan jadwal tanam menjadi strategi penting dalam menghadapi dinamika iklim yang semakin tidak menentu.
Dengan pengelolaan waktu tanam yang tepat, diharapkan aktivitas pertanian di Kotim tetap berjalan optimal sekalipun menghadapi perubahan musim yang cukup signifikan.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post