SAMPIT – Bupati Halikinnor menilai potensi bantuan sosial dari perusahaan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih sangat besar dan perlu digali lebih optimal, khususnya selama bulan suci Ramadan. Hal itu disampaikannya usai mendengar laporan bahwa kontribusi sejumlah perusahaan masih sebatas 50 kilogram beras per perusahaan.
Menurutnya, dengan banyaknya perusahaan sektor perkebunan, pertambangan hingga perbankan yang beroperasi di Kotim, bantuan yang dihimpun seharusnya bisa jauh lebih besar.
“Tadi saya mendengarkan dibantu cuma 50 kilo per satu perusahaan, dari perusahaan ini kita cukup banyak. Potensi kita banyak, tapi kita yang tidak menggalinya,” ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.
Halikinnor meyakini, setiap perusahaan umumnya memiliki alokasi dana tanggung jawab sosial atau CSR, terlebih di bulan Ramadan yang identik dengan peningkatan kegiatan sosial dan keagamaan.
Ia optimistis, apabila dikoordinasikan dengan baik, kontribusi perusahaan bisa ditingkatkan minimal satu kuintal hingga satu ton per perusahaan.
“Jadi saya yakin perusahaan, apalagi ini kan bulan penuh berkah, bulan penuh rahmat, pasti ada dana taktis yang mereka siapkan untuk membantu itu. Tinggal kita minta saja, satu ton atau minimal satu kuintal, satu kilo per perusahaan, banyak itu. Ada pertambangan, ada perkebunan. Bisa minta di bank, saya yakin mereka punya anggaran itu,” tegasnya.
Ia menjelaskan, bantuan beras dalam jumlah besar nantinya tidak hanya disalurkan ke pondok pesantren, tetapi juga menyasar masyarakat kurang mampu di lingkungan perumahan warga. Pendataan dapat dilakukan melalui RT agar penyaluran lebih tepat sasaran dan benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan.
“Nah ini bisa dalam jumlah besar, tidak hanya kita bagi pondok pesantren, tapi bisa juga ke lingkungan masyarakat yang tinggal kita inventarisir lewat RT, mungkin tidak ada di lingkungan itu yang penduduk warga kita kurang mampu,” katanya.
Bupati menyoroti kondisi ekonomi masyarakat saat Ramadan yang cenderung berbeda dibanding bulan biasa. Aktivitas kerja sebagian warga berkurang, baik karena keterbatasan waktu maupun tenaga. Hal itu berdampak pada pendapatan harian, terutama bagi pekerja sektor informal.
“Paling tidak dengan memperoleh beras, misalnya 20 kilo atau 25 kilo, dia sudah bebannya terbantu sekali di bulan puasa ini. Karena orang bekerja bulan puasa kan tidak bisa seperti bulan-bulan lain, terbatas waktu maupun tenaganya. Itu akan terbatas sekali,” ucapnya.
Secara nasional, program CSR memang diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Dalam konteks daerah seperti Kotim yang memiliki sektor perkebunan dan pertambangan cukup dominan, sinergi antara pemerintah daerah dan dunia usaha dinilai menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Halikinnor berharap, ke depan koordinasi penggalangan bantuan dapat dilakukan lebih terstruktur sehingga potensi besar yang ada tidak terlewatkan. Ia pun optimistis, dengan semangat kebersamaan, program bantuan beras Ramadan dapat digalang lebih maksimal pada tahun berikutnya.
“Semoga tahun depan bisa digalang seperti itu,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post