SAMPIT – Peningkatan infrastruktur melalui Program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD) mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Tinduk, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Jalan Pelita (nama jalan setempat, red) yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan warga karena rusak dan sulit dilalui, kini berubah menjadi akses vital yang mempercepat pergerakan hasil pertanian dan perkebunan menuju pusat kota.
“Aspal mulus yang membentang di tengah kawasan persawahan bukan sekadar memperindah desa, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang signifikan,” kata Penjabat Kepala Desa Tinduk, Zikrillah, Jumat 16 Januari 2026. Akses menuju kebun, lahan pertanian, hingga Kota Sampit kini jauh lebih mudah, memangkas waktu tempuh dan biaya distribusi yang selama ini memberatkan petani.
Ia menilai peningkatan jalan tersebut sebagai langkah strategis yang menjawab kebutuhan mendasar masyarakat desa. Menurutnya, infrastruktur jalan merupakan kunci penggerak ekonomi lokal, khususnya bagi wilayah yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan.
“Keberadaan jalan yang layak ini sangat membantu warga, baik untuk ke kebun maupun ke kota. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten yang telah merealisasikan pembangunan ini,” ujar Zikrillah.
Ia menjelaskan, Desa Tinduk memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Selain kelompok tani padi, terdapat pula kebun sawit rakyat, kebun buah, serta rotan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Kondisi jalan yang sebelumnya rusak kerap menyulitkan angkutan hasil panen, terutama saat musim hujan.
Pada tahun 2024 lalu, Jalan Pelita sempat mendapat pemeliharaan dari pemerintah kabupaten, ditambah penimbunan melalui swadaya masyarakat dan dana desa. Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi kerusakan secara menyeluruh. Jalan kembali berlubang dan licin, sehingga aktivitas warga sering terganggu.
“Kini jalannya sudah diaspal hingga mendekati Muara Jalan Tjilik Riwut. Harapan kami, sisa sekitar dua kilometer menuju kawasan permukiman bisa dilanjutkan. Jalan yang tersisa masih bisa dilewati, tapi saat hujan sering rusak,” katanya.
Jalan Pelita sendiri memiliki peran strategis karena terhubung langsung dengan Jalan Tengku Gembo di Kecamatan Kota Besi, yang juga mendapatkan penanganan melalui program IJD. Konektivitas antarwilayah ini dinilai mampu memperkuat jaringan transportasi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Seiring membaiknya kondisi jalan, aktivitas warga pun semakin meningkat. Pada sore hari, ruas jalan tersebut kerap dimanfaatkan masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah dan menikmati suasana sekitar. Meski demikian, pemerintah desa tetap mengingatkan agar keselamatan menjadi prioritas.
“Kami sudah mengimbau agar warga tetap berhati-hati dan tidak beraktivitas di tengah badan jalan. Kami juga berkoordinasi dengan Polsek Kota Besi dan Bhabinkamtibmas, yang rutin melakukan patroli sore hari,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim, Mentana Dhinar Tistama, sebelumnya menjelaskan bahwa Kabupaten Kotim berhasil memperoleh program IJD untuk dua ruas jalan strategis, yakni Jalan Tengku Gembo di Kota Besi dan Jalan Pelita di Desa Tinduk.
Menurut Mentana, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dorongan dan komitmen Bupati Kotim Halikinnor, serta peran aktif tim teknis daerah yang secara konsisten mengusulkan dan melengkapi data ke pemerintah pusat.
Pelaksanaan peningkatan jalan dilakukan oleh Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Tengah. Untuk ruas Jalan Tengku Gembo, nilai kontrak mencapai Rp14,32 miliar dengan panjang penanganan 3,127 kilometer. Sementara Jalan Pelita Desa Tinduk mendapatkan pagu Rp15,08 miliar untuk peningkatan sepanjang 3,22 kilometer.
“Kedua ruas ini memenuhi kriteria Inpres Jalan Daerah karena terhubung dengan jalan nasional, mendukung akses ke fasilitas pendidikan, serta berperan penting dalam menunjang ketahanan pangan daerah,” jelas Mentana.
Ia menambahkan, kondisi kedua jalan tersebut sebelumnya tergolong rusak berat dan sudah lama tidak mendapat perbaikan menyeluruh. Melalui program IJD, pemerintah pusat berharap konektivitas daerah semakin baik dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post