SAMPIT – Sebanyak 70 pelajar dari berbagai SMA, SMK, dan MA negeri maupun swasta di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi mengikuti Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tahun 2025. Selama 15 hari ke depan, mereka akan menjalani masa karantina di asrama Balai Diklat Aparatur BKPSDM Kotim yang dikenal sebagai “Desa Bahagia”.
Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kotim, Eddy Hidayat Setiadi, dalam laporannya menyebutkan, peserta tahun ini terdiri dari 48 putra dan 22 putri yang telah melalui seleksi ketat. Selain itu, Kotim juga mengirimkan lima perwakilan ke tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya.
“Desa Bahagia bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang pembentukan karakter. Di sana mereka akan hidup dalam aturan disiplin yang ketat, dilatih untuk membangun rasa kebersamaan dan jiwa Pancasila,” ujar Eddy, Senin 4 Agustus 2025.
Eddy memaparkan, dasar pelaksanaan kegiatan ini mengacu pada sejumlah regulasi, mulai dari Peraturan Presiden, Peraturan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), hingga Peraturan dan Keputusan Bupati Kotim. Seluruh rangkaian kegiatan juga telah tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Kesbangpol Kotim Tahun Anggaran 2025.
Kurikulum pelatihan menggunakan pendekatan pembelajaran aktif, meliputi materi Pancasila dan Kewarganegaraan, Wawasan Kebangsaan, Revolusi Mental, Kepemimpinan, Literasi Digital, hingga bahaya narkoba dan kenakalan remaja. Materi pelatihan fisik terdiri dari latihan dasar kepemimpinan, Peraturan Baris Berbaris (PBB), serta praktik pengibaran dan penurunan bendera.
“Narasumber yang terlibat berasal dari berbagai unsur, di antaranya Bupati Kotim, Kodim 1015 Sampit, Akademisi, Praktisi, BNK Kotim, dan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kotim. Semua materi dirancang untuk membentuk calon Paskibraka yang tangguh, berkarakter, dan siap mengemban tugas negara,” jelas Eddy.
Panitia juga memastikan pemenuhan kebutuhan konsumsi peserta dengan standar gizi yang ketat. Selama masa pelatihan, peserta akan mendapatkan enam kali konsumsi setiap harinya, mulai dari sarapan hingga snack malam, dengan menu bervariasi yang disesuaikan dengan kebutuhan kalori Paskibraka.
Eddy menegaskan bahwa kedisiplinan menjadi syarat mutlak selama pelatihan berlangsung. Seluruh peserta diwajibkan menaati peraturan dan tata tertib yang telah ditetapkan panitia. Sanksi tegas akan diberikan kepada peserta yang melanggar, mulai dari teguran lisan, tertulis dengan tembusan ke Bupati, sekolah, dan orang tua, hingga sanksi berat berupa pencabutan hak sebagai calon Paskibraka.
“Ini penting agar para peserta memahami bahwa menjadi Paskibraka bukan hanya soal baris-berbaris, tetapi juga pembentukan karakter dan mental. Kami ingin memastikan hanya mereka yang benar-benar siap dan memiliki komitmen yang tinggi yang akan melaksanakan tugas mulia ini,” tegas Eddy.
Selama berada di Desa Bahagia, para peserta akan dibimbing untuk hidup sebagai satu keluarga dengan nilai-nilai keseimbangan, ketentraman, dan semangat gotong royong yang berlandaskan Pancasila. Sistem Desa Bahagia menjadi simbol pembinaan karakter yang akan terus melekat hingga mereka menjalankan tugas di upacara puncak 17 Agustus mendatang.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post