SAMPIT – Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam, mengungkapkan bahwa setelah penetapan status siaga karhutla selama 90 hari ke depan, pihaknya juga bersiap mengajukan permohonan bantuan operasi modifikasi cuaca (OMC) ke tingkat pusat.
Upaya ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap semakin meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Tengah, khususnya Kotim.
“Setelah ini kami akan ajukan. Biasanya dari provinsi yang mengajukan ke BNPB. Kemarin hasil rapat, jika provinsi sudah menetapkan status siaga dan beberapa kabupaten juga siaga, lalu pertumbuhan awan dinilai cukup oleh BMKG, maka BNPB siap membantu untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Mudah-mudahan kita bisa kena imbas hujannya. Kita bicara dalam konteks Kalimantan Tengah,” ujar Multazam, Kamis 31 Juli 2025.
Ia menambahkan, Kotim menjadi daerah keempat yang menetapkan status siaga karhutla di Kalteng, setelah Palangka Raya, Kabupaten Gunung Mas, dan Provinsi Kalteng. Penetapan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi peningkatan titik api, terutama di puncak musim kemarau.
“Kita di Kotim ini yang keempat. Karena kita melihat eskalasi yang terjadi, dan informasi karhutla itu tidak hanya berasal dari BPBD, tapi juga dari Masyarakat Peduli Api (MPA),” jelasnya.
Multazam mengungkapkan, dari laporan MPA yang tersebar di delapan kecamatan di Kotim, telah terjadi sedikitnya delapan kejadian karhutla yang tidak semuanya tercatat dalam sistem pelaporan BPBD. “Terhitung ada delapan kejadian dari laporan MPA, dan itu belum masuk ke BPBD. Jadi sebenarnya di kecamatan-kecamatan sudah ada kejadian, tapi karena laporannya langsung dari MPA, datanya terpisah,” ujarnya.
Pihaknya menilai kolaborasi antara MPA dan BPBD sangat penting dalam memperkuat pemantauan serta penanganan cepat di lapangan. Dengan adanya pelibatan berbagai pihak dan upaya seperti modifikasi cuaca, diharapkan risiko karhutla di Kotim dapat ditekan semaksimal mungkin.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post