SAMPIT – Para guru Pendidikan Agama Islam di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) antusias mengikuti workshop pembuatan model ajar berbasis Deep Learning yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kotim. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi para pendidik untuk memperkaya kompetensi sekaligus memahami pendekatan teknologi dalam dunia pembelajaran agama.
Salah satu peserta, Amaliah Irwanti, guru SDN 5 Mentawa Baru Hulu, menyambut baik kegiatan ini. Ia mengakui bahwa pendekatan Deep Learning merupakan hal baru bagi para guru, namun sangat membuka wawasan dalam menyusun pembelajaran yang lebih efektif.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali bagi kami para guru, karena ini baru bagi kami. Ibaratnya, Deep Learning ini adalah hal baru yang sebelumnya belum pernah kami dapatkan. Jadi kegiatan ini benar-benar menambah wawasan kami,” ujar Amaliah, Sabtu 24 Mei 2025.
Menurutnya, dengan adanya workshop ini, para guru menjadi lebih memahami bagaimana membuat model ajar yang tidak hanya menyampaikan materi agama secara tekstual, tetapi juga mampu menggugah pemahaman mendalam dan aplikatif di kehidupan siswa.
Dinas Pendidikan Kotim sebagai penyelenggara menekankan pentingnya inovasi pembelajaran, termasuk dalam pendidikan agama. Melalui pemanfaatan pendekatan Deep Learning, guru diharapkan dapat menyusun pembelajaran berbasis konteks, pengalaman siswa, serta mampu mengembangkan karakter religius secara lebih efektif.
Kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi antarguru untuk saling bertukar pengalaman dan mengembangkan perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Selain itu, diharapkan program ini mampu menjadi tonggak peningkatan mutu pembelajaran agama di sekolah-sekolah dasar.
Amaliah berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. “Kami para guru sangat berharap pelatihan seperti ini bisa berkesinambungan, karena memang teknologi terus berkembang. Jadi kami juga harus ikut berkembang, apalagi dalam membimbing siswa memahami nilai-nilai agama secara lebih mendalam,” tambahnya.
Workshop ini tidak hanya menyasar peningkatan kualitas pengajaran, tetapi juga menjadi upaya membentuk guru-guru agama yang adaptif, kreatif, dan mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran spiritual di era digital.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post