SAMPIT – Ketika banjir datang atau seseorang terseret arus sungai, detik-detik penyelamatan bisa menjadi penentu hidup dan mati. Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar Pelatihan Water Rescue pada Selasa, 22 April 2025 di kawasan wisata Danau Alam Salju, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
“Kami ingin mereka bukan hanya tahu teori, tapi juga siap terjun di saat genting. Ini soal nyawa,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Selasa 22 April 2025.
Mengingat ujarnya, Kotim dikenal sebagai wilayah yang memiliki banyak sungai dan badan air. Kondisi geografis ini memang menunjang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, namun di sisi lain juga menyimpan potensi tinggi terhadap bencana air seperti banjir, kapal tenggelam, dan korban hanyut.
Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan personel BPBD dan instansi terkait dalam menghadapi situasi kedaruratan berbasis perairan.
“Kegiatan diikuti oleh 47 peserta yang terdiri dari 30 personel BPBD, 5 dari Pos Pencarian dan Pertolongan Sampit, 2 dari BKSDA Resort Sampit, serta 10 tamu undangan,”ujarnya.
Para peserta dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan teknis mulai dari prinsip dasar penyelamatan di air, penggunaan alat pelampung, hingga prosedur evakuasi korban dan simulasi nyata di lapangan.
“Wilayah kami dikenal memiliki banyak sungai, sehingga potensi kejadian darurat berbasis air cukup tinggi. Melalui pelatihan ini, kami ingin membentuk personel yang terlatih dan tanggap dalam menghadapi situasi darurat,” kata Multazam.
Ia menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam situasi penyelamatan, bukan hanya dari aspek teknis, tetapi juga kerja sama tim, koordinasi, dan kedisiplinan.
Pelatihan ini mengusung tema “Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan dengan Semangat Kebersamaan”. Tema ini mencerminkan semangat kolaboratif dalam operasi penyelamatan, karena penyelamatan di air bukanlah pekerjaan individu, melainkan aksi tim yang membutuhkan komunikasi dan solidaritas tinggi.
Materi disampaikan melalui presentasi, diskusi interaktif, studi kasus, serta praktik langsung di lokasi, termasuk pengenalan perilaku hewan predator yang mungkin dihadapi saat penyelamatan.
“Diharapkan dari pelatihan ini akan lahir para penyelamat yang tidak hanya ahli secara teknis, tetapi juga cepat tanggap, profesional, dan mampu mengambil keputusan tepat dalam waktu kritis,”tegasnya.
Lebih dari itu, mereka akan menjadi garda depan penyelamatan di wilayah rawan bencana air seperti Kotawaringin Timur, di mana keberanian dan keterampilan mereka bisa menjadi penentu hidup atau tidaknya seseorang yang tengah berjuang melawan derasnya arus.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post