SAMPIT – Kepala Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Cabang Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Azwar Fuad mengatakan, program serap gabah kering panen (GKP) tidak hanya memberi dampak pada peningkatan ekonomi petani saja.
“Jika Bulog yang menyerap gabah maka pengolahannya pun akan dilaksanakan di wilayah setempat. Mulai dari penggilingannya yang bekerjasama dengan pengusaha penggilingan lokal, kemudian dedak, bekatul dan hasil sampingan lainnya juga beredar di Kotim,” ujarnya, Minggu 16 Maret 2025.
Lanjutnya, seperti yang pertama pihaknya serap di Kecamatan Teluk Sampit. Sehingga nantinya perputaran uang tidak akan lari ke daerah lain melainkan tetap di Kecamatan itu sendiri. “Dan secara umum Kotim diuntungkan, karena petani semakin sejahtera perputaran ekonomi pun semakin tinggi. Karena kami menyerap gabah, maka multiplayer effect ekonominya juga akan berlangsung di Kotim,” kata Fuad.
Menurutnya, hal ini sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto, yakni Bulog tidak lagi hanya menyerap hasil panen dalam bentuk beras seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi diprioritaskan untuk penyeraban GKP dari para petani lokal.
Sejauh ini Bulog Kotim telah menyerap setidaknya 14,3 ton GPK pada penyerapan perdana yang dilaksanakan di Kecamatan Teluk Sampit dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram dan langsung dibayarkan oleh Bulog.
“HPP ini terbilang cukup tinggi, pasalnya para petani mengaku ketika musim panen gabah mereka hanya dihargai sekitar Rp5.000 per kilogram oleh tengkulak, sehingga adanya program pemerintah melalui Bulog ini pun mendapat respons positif dari para petani,” bebernya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post