SAMPIT – Pengurus pasar pusat perbelanjaan mentaya (PPM) Yudi menyampaikan, aspirasi dari seluruh pengurus serta pedagang di PPM berkeinginan menjadikan PPM sebagai pasar seni modern.
“Karena keluhan utama kita adalah pengunjung yang sangat berkurang, membuat omset kita menurun lebih dari 200%. Sehingga sekarang kita butuhkan itu fasilitas pembenahan supaya pedagang atau pengunjung itu ramai lagi,”ujarnya, Selasa 5 November 2024.
Lanjutnya, yang perlu dibenahi pertama adalah tempat parkir, yang kedua membangun ruang publik di PPM untuk menghilangkan kesan bahwa pasar tradisional kumuh dan bisa menjadi pasar semi modern. Sehingga sudah menjadi pasar milenial tempat orang dengan nyaman berkunjung.
“Jadi yang ke sini bukan untuk berbelanja saja, tapi berwisata. Kalau sudah akses berwisata di sini terbangun dengan baik, saya pikir pasti orang akan berbondong-bondong datang. Makanya kita butuhkan sinergi dari berbagai pihak, terutama dari Disperindag agar pedagang ini bisa disupport,”tegasnya.
Menurutnya, pasar tradisional PPM ini merupakan icon Kota Sampit dari zaman dulu, sehingga diharapkan bisa menjadi pasar pariwisata untuk mengembalikan pendapatan para pedagang PPM seperti dulu.
“Kalau dulu kita mencari uang mudah, tapi sekarang kita mencari pembeli luar biasa susahnya, bahkan toko-toko di atas itu untuk mendapatkannya kadang satu minggu saja tidak bisa pecah. Itu yang jadi dasae pemikiran kita bagaimana nantinya pasar ini jadi pasar yang benar-benar speknya 80% pariwisata,”bebernya.
Terkait wacana membangun cafe di lantai atas PPM lanjutnya, memang belum terealisasi karena wacana itu hadir saat pandemi lalu sehingga belum ada kolaborasi selanjutnya dan tindak lanjut.
‘Makanya sekarang ini, kami mengusulkan lagi. Semoga dengan pergantian dari kepala daerah yang baru dengan kepengurusan dari Disperindag juga support dari DPRD, bisa membantu kami untuk menciptakan cita-cita menjadikan PPM ini sebagai icon lagi dari Kota Sampit dan menjadi pasar pariwisata,”tegasnya.
Karena tambahnya, saat ini kondisi pedagang di PPM sangat memprihatinkan bahkan 60% toko sudah tutup dan hanya tersisa 40% yang bertahan itu pun hanya banyak di lantai dasar sementara untuk bangunan di lantai atas sudah banyak yang tutup lantaran minimnya pembeli.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post