SAMPIT – Sebanyak 53 titik panas atau hotspot terdeteksi di kabupaten Kotawaringin Timur dan tersebar di 7 kecamatan dari 17 Kecamatan yang ada. Hotspot tersebut berdasarkan hasil pantauan 20 September 2024 pukul 06.00 WIB.
“Saat ini seluruh wilayah di Kabupaten Kotim masuk dalam potensi sangat mudah terbakar dilihat dari analisa parameter cuaca wilayah Kalimantan Tengah,”kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotim, Agus Mulyadi, Jumat 20 September 2024.
Bahkan menurutnya sejumlah kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Kotim beberapa diantaranya tidak terdeteksi sebagai hotspot lantaran tertutup awan tebal, sehingga satelit tidak bisa mendeteksi.
Adapun 53 hotspot tersebut berada di kecamatan Telaga Antang sebanyak 19 hotspot, Kecamatan Antang Kalang 14 hotspot, Kecamatan Bukit Santuai 11 hotspot, Kecamatan Teluk Sampit 3 hotspot, Kecamatan Tualan Hulu 3 hotspot, Kecamatan Cempaga 2 hotspot dan Kecamatan Telawang 1 hotspot.
“Kondisi ini bisa diperparah lantaran tidak terdapat pertumbuhan awan signifikan di wilayah Kotim serta kondisi angin yang bertiup kencang. Bahkan diperkirakan 24 jam ke depan tidak ada terjadi hujan di seluruh wilayah Kotim dan kemungkinan masih ada beberapa titik hotspot yang belum terdeteksi terutama di wilayah Kota Sampit yaitu Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kecamatan Baamang,”bebernya.
Disebutkan Agus bahwa per tanggal 19 September 2024 lalu indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Kotim mencapai 85 yaitu dalam kategori sedang namun sudah mendekati tidak sehat. Sementara pada tanggal 20 September 2024 ini mengalami penurunan menjadi 52 dan masih dalam kategori sedang.
Dijelaskannya ISPU merupakan angka tanpa Satuan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi mutu udara di lokasi tertentu dan didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. Khusus untuk daerah rawan terdampak kebakaran hutan dan lahan informasi ini dapat digunakan sebagai early warning system atau sistem peringatan dini bagi masyarakat sekitar.
“Untuk rentangnya sendiri jika ISPU berada di angka 1-50 maka kategori baik yang artinya tingkat mutu udara tidak memberikan efek negatif terhadap manusia, hewan dan tumbuhan. Sementara di rentang 51-100 masuk kategori sedang yang artinya tingkat mutu udara masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan,”imbuhnya.
Kemudian direntang 101-200 masuk kategori tidak sehat yang artinya tingkat mutu udara bersifat merugikan pada manusia, hewan dan tumbuhan. Selanjutnya rentang 201-300 masuk kategori sangat tidak sehat yang artinya tingkat mutu udara dapat meningkatkan risiko kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.
Terakhir jika rentang ISPU berada di angka 301 ke atas maka masuk kategori berbahaya, yang artinya tingkat mutu udara dapat merugikan kesehatan serius pada populasi dan perlu penanganan cepat.
“Mengingat kondisi di Kotim saat ini yang sudah mulai mengalami kabut asap meskipun hanya di pagi hari, diharapkan masyarakat tetap menjaga kesehatan terutama ketika beraktivitas di luar rumah agar kiranya menggunakan masker,”ujarnya.
Agus juga menghimbau agar masyarakat menghindari kegiatan pembakaran terutama yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan ataupun lahan mengingat kondisi Kotim saat ini tengah di masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
“Biasanya di musim peralihan ini cuaca bersifat ekstrem bahkan bisa disertai dengan angin yang sangat kencang. Jika panas biasanya panas yang sangat terik dan ketika hujan maka hujan yang sangat lebat,”jelasnya.
Kondisi ini tambah Agus, bisa mempengaruhi tingkat kemungkinan terjadinya kebakaran apalagi banyak lahan di wilayah Kotim adalah gambut yang sangat mudah terbakar.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post